Khusuk Berdoa di Gua Maria Mojosongo, Solo



Umat Katolik di Solo punya tempat ziarah gua Maria yang berusia tiga puluhan tahun. Namanya Gua Maria Mojosongo. Tempat ziarah umat Katolik ini terletak di utara kota Solo, Jawa Tengah.

Gua Maria Mojosongo berada di jalur Mojosongo-Boyolali. Dari Bandara Adisumarmo, ke arah timur menuju Jalan Ahmad Yani, kemudian ke jalan Raya Mojosongo sekitar 5 km akan melewati kantor stasiun televisi lokal. Sekitar 300 meter dari situ tiba di lokasi.

Pada bulan November 1983 seorang pastor bernama Romo Suntono, Pr. menggagas pembangunan sebuah tempat ziarah. Awalnya Gua Maria Mojosongo berupa tanah lapang belukar dan hanya terdapat salib besi di tengahnya. Setelah masalah pertanahan selesai, pembangunan Gua Maria segera dilaksanakan, yaitu membangun gua induk dan altar.

Tanggal 25 Desember 1983, Bapa Uskup Agung Semarang Mgr. Julius Darmaatmadja memberkati dan mwresmikan Gua Maria Mojosongo sebagai tempat ziarah umat Katolik.

Setiap malam Jumat diadakan perayaan Ekaristi di Gua Maria oleh pastor dari Kevikepan Surakarta secara bergantian.

Air Khasiat Pengobatan

Sebagian besar peziarah yang datang selalu berdevosi (berdoa) di Gua Maria Mojosongo untuk memanjatkan ucapan syukur kepada Tuhan. Pengunjung setiap harinya sekitar 20-50 orang, dan pada malam JUmat minggu pertama jumlahnya bisa mencapai ratusan.

Meski tidak begitu luas, penataan interiornya asri sehingga berkesan nyaman. Nuansa religi sangat terasa, peziarah tidak ada yang bercakap-cakap, semua khusuk berdoa. Peziarah datang dari luar daerah seperti Lampung. Surabaya bahkan Medan.

Sebelum berdoa di depan latar, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki, lalu menyalakan lilin sebelum berdoa. Usai berdoa biasanya mengambil air di sumber air yang diyakini sebagian jemaat mempunyai khasiat pengobatan.** (ade/sumber: Gagas Ulung, Wisata Ziarah, 2013)

Leave a Comment