10 Candi Agama Buddha di Indonesia, Kaya akan Nilai Sejarah

ulinulin.com – Seiring berjalannya zaman, tentunya ada banyak peninggalan barang tertentu yang menjadi bukti sejarah adanya peradaban, termasuk di Indonesia.

Setiap agama di Indonesia pun juga memiliki benda peninggalan sejarah yang membuktikan adanya penyebaran agama di sana. Beberapa di antaranya masih ada yang bisa dipelajari dan diamati secara langsung.

Dalam agama Buddha sendiri, benda peninggalan sejarahnya terdiri atas beberapa bentuk, seperti candi, prasasti, dan kitab.

Ciri khas utama yang terdapat pada candi agama Buddha adalah stupa dan arca dewa seperti Bodhisattva. Adapun relief-relief yang menampilkan corak Buddha.

Setiap candi Buddha yang ada di Indonesia mengandung banyak nilai sejarah, sehingga pemugarannya terus dilakukan agar benda bersejarah yang kini bisa dikunjungi orang ini dapat terawat dengan baik.

Ada beberapa candi agama Buddha di Indonesia yang bisa Mama dan anak mama jumpai.

Untuk informasi selengkapnya, mari simak rangkuman dari berikut ini.

1. Candi Borobudur

Candi agama Buddha yang paling terkenal di Indonesia adalah Candi Borobudur. Peninggalan sejarah yang menjadi situs warisan budaya dunia versi UNESCO ini terletak di daerah Magelang, Jawa Tengah.

Candi Borobudur dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno di abad ke-9 masehi, tepatnya zaman pemerintahan Raja Samaratungga yang merupakan wangsa Syailendra. Candi ini awalnya digunakan sebagai tempat sembahyang.

Luas wilayah candi ini cukup besar, dengan memiliki 10 tingkat yang 6 tingkat pertama berbentuk bujur sangkar dan 4 tingkat sisanya berbentuk lingkaran. Di setiap dindingnya, terdapat relief yang menggambarkan kisah Bohisattva.

2. Candi Mendut

Tidak jauh dari Candi Borobudur, ada Candi Mendut yang juga merupakan salah satu peninggalan sejarah agama Buddha di Indonesia. Candi ini berlokasi di Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Candi Mendut ditemukan oleh seorang arkeolog Belanda, J. G. de Carparis, pada tahun 1908. Proses pembangunannya diperkirakan sudah dimulai sebelum Candi Borobudur, yakni pada awal abad ke-9 oleh Raja Indra (ayah Samaratungga) dari wangsa Syailendra.

Di dalam Candi Mendut, terdapat tiga arca yang terdiri dari Buddha Sakyamuni, Bodhisattva Avalokitesvara, dan Bodhisattva Vajrapani. Setiap sisi tangga dan dinding candi juga terdapat relief-relief yang mencirikan agama Buddha.

3. Candi Pawon

Di antara Candi Mendut dan Candi Borobudur, terdapat Candi Pawon yang merupakan bukti peninggalan sejarah agama Buddha pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini juga berlokasi di Magelang, Jawa Tengah.

Candi Pawon dibangun oleh Raja Samaratungga dari wangsa Syailendra sekitar tahun 826 M. Merujuk pada catatan di Prasasti Karangtengah, dahulunya candi ini dimanfaatkan sebagai tempat perabuan dan tempat penyimpanan senjata.

Bangunan candi ini mempunyai ciri khas bagian atas yang dihiasi oleh banyak stupa. Selain itu, bagian dinding luarnya terukir relief pohon hayati yang dikelilingi oleh pundi-pundi dan kinara-kinari.

4. Candi Plaosan

Selanjutnya ada Candi Plaosan yang berada di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini letaknya dekat dengan Candi Prambanan, yang merupakan peninggalan sejarah agama Hindu.

Para ahli memperkirakan bahwa Candi Plaosan didirikan pada masa pemerintahan Rakai Pikatan sekitar abad ke-9 masehi. Candi ini dibangun untuk istrinya Rakai Pikatan yang berbeda agama dengannya, yaitu Pramudyawardani.

Keunikan dari Candi Plaosan adalah keberadaan dua kompleks candi yang bangunannya memiliki bentuk dan ukuran yang sama, yang dikenal sebagai Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Bangunan candi ini juga terdapat stupa, arca Buddha, dan relief yang menandakan ciri agama Buddha.

Editors’ Picks

5. Candi Muara Takus

Di pulau Sumatra, tepatnya di provinsi Riau, ada situs peninggalan sejarah agama Buddha yaitu Candi Muara Takus. Kompleks candi ini berlokasi di Kabupaten Kampar, Riau.

Belum ada yang mengetahui dengan pasti kapan waktu Candi Muara Takus dibangun. Namun, candi ini diperkirakan sudah ada pada zaman Kerajaan Sriwijaya mencapai masa kejayaannya.

Di dalam kompleks Candi Muara Takus, terdapat empat bangunan lainnya yaitu Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai, dan Stupa Palangka. Candi ini umumnya dijadikan sebagai tempat pemujaan bagi umat agama Buddha.

6. Candi Muaro Jambi

Selain Candi Muara Takus, di pulau Sumatra juga ada Candi Muaro Jambi yang terletak di daerah Muaro Jambi, Jambi. Candi ini diketahui merupakan situs peninggalan sejarah terluas di Indonesia dengan luas yang mencapai 3.981 hektare.

Bangunan Candi Muaro Jambi pertama kali ditemukan oleh Letnan SC Crooke, seorang perwira tentara Inggris, pada tahun 1820. Para ahli menduga bahwa candi ini adalah bagian dari peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu yang dibangun sekitar abad ke-7.

Kawasan Candi Muaro Jambi sering dijadikan sebagai tempat bagi umat agama Buddha untuk melakukan ibadah. Dahulunya, candi ini sempat menjadi pusat pendidikan internasional agama Buddha.

7. Candi Batujaya

Di wilayah Jawa Barat, ada pula situs peninggalan sejarah agama Buddha yang berbentuk candi. Salah satunya adalah Candi Batujaya yang letaknya berada di Batujaya, Karawang, Jawa Barat.

Kompleks candi ini diperkirakan sudah didirikan pada masa Kerajaan Tarumanegara, sekitar abad ke-5 sampai ke 6 masehi. Melihat dari tahun pembangunannya, Candi Batujaya disebut sebagai situs peninggalan Buddha kuno yang tertua di pulau Jawa.

Kompleks Candi Batujaya terdiri dari candi-candi yang tertimbun di dalam tanah yang terlihat seperti bukit. Salah satu bangunan candi yang ada di dalam kompleks tersebut, yaitu Candi Jiwa, memiliki bentuk bunga Teratai di bagian atas dan struktur melingkar seperti bekas stupa pada bagian tengahnya.

8. Candi Kalasan

Situs peninggalan sejarah agama Buddha berbentuk candi juga dapat ditemukan di daerah Yogyakarta. Salah satu candi yang terkenal di sana adalah Candi Kalasan, yang berlokasi di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Merujuk pada Prasasti Kalasan, candi ini dibangun pada tahun 778 M oleh Maharaja Tejapurnama atas saran dari para penasihat keagamaan wangsa Syailendra. Candi Kalasan didirikan sebagai tempat untuk menghormati Dewi Tara.

Bangunan utama Candi Kalasan yang tingginya sekitar 34 meter ini dikelilingi oleh 52 stupa kecil. Di dalam kompleks candi ini juga terdapat arca Manussa Buddha dan arca Dhyani Buddha yang masing-masing berada di kedua tingkat atap candi.

9. Candi Sari

Berikutnya ada Candi Sari, yang letaknya cukup dekat dengan Candi Kalasan. Candi ini juga berada di daerah Sleman, Yogyakarta.

Candi Sari diperkirakan dibangun pada waktu yang bersamaan dengan Candi Kalasan, yaitu sekitar abad ke-8 pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Dahulunya, bangunan candi ini berfungsi sebagai asrama dan wihara agama Buddha serta tempat belajar bagi para biksu.

Salah satu keunikan Candi Sari terlihat dari bangunannya yang memiliki 9 stupa. Selain itu, sisi dinding tubuh candi ini juga terdapat pahatan arca-arca dewa Bodhisattva dan Tara.

10. Candi Banyunibo

Tidak jauh dari Candi Kalasan dan Candi Sari, terdapat pula Candi Banyunibo yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Kawasan candi ini juga berdekatan dengan Situs Ratu Boko.

Candi Banyunibo didirikan pada masa Kerajaan Mataram Kuno di abad ke-9 masehi. Bangunan candi ini sempat ditemukan dalam keadaan runtuh dan mulai dipugar kembali serta diteliti sekitar tahun 1940-an.

Adanya stupa pada bagian atas bangunan candi menjadikan Candi Banyunibo sebagai candi yang bercirikan agama Buddha. Tidak hanya stupa, di bagian dalam candi ini juga ada arca Bodhisattva dan hiasan relief lainnya yang bercorak Buddha.

Itulah beberapa candi agama Buddha di Indonesia yang perlu diketahui anak. Situs-situs peninggalan sejarah seperti ini tentunya harus dirawat dan dijaga agar keberadaannya tidak terlupakan.

Dari sepuluh candi agama Buddha di atas, Mama dan anak mama tertarik untuk mengunjungi yang mana saja, nih?

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website popmama.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”