10 Cerita Menarik di Balik Brand Fashion Terkenal di Dunia

ulinulin.com – Doyan belanja barang bermerek? Kami yakin sepersekian persen teman-teman di luar sana PASTI gemar melakukannya. Selain bisa memuaskan ‘dahaga’, belanja barang bermerek biasanya membuat kelas kita naik satu level di mata orang-orang.

Pasalnya, baik kuantitas dan kualitas barang bermerek sesuai dengan harganya yang selalu memiliki deretan panjang angka nol. Biasanya orang-orang yang bisa melakukannya, hanya dari kalangan jetset saja.

Sayang, banyak orang yang beranggapan kalau belanja barang bermerek selalu dikaitkan dengan sifat hedonisme. Sebenarnya belanja barang bermerek sah-sah saja selama kita bisa membatasi diri. Yang jadi masalah kalau kita sudah kecanduan. Ini dia yang membuat paradigma belanja barang bermerek menjadi kegiatan negatif.

Namun tak selamanya belanja barang bermerek itu menjadi hal yang negatif kok! Sekarang banyak juga kaum sosialita yang mengubah hobi belanjanya ini menjadi salah satu investasi yang menggiurkan; tak hanya memutar uang saja, tapi juga bisa mencicipi koleksi terbaru dari sang investor.

Nah, kalau teman-teman mau ikutan berinvestasi seperti para sosialita di atas, kalian harus hapal juga yah sejarahnya! Bukan hanya hapal merek dan logonya saja. Malu dong kalau nanti ada klien yang newbie bertanya tentang detail merek tertentu, tapi kita sebagai investor tidak bisa menerangkannya.

Maka dari itu, kali ini kamini.id akan mencoba menerangkan beberapa rangkuman sejarah brand fashion dunia yang dijamin bisa menambah pengetahuan kalian! Yuk simak!

1. Louis Vuitton

Bila ada yang bertanya, apa merek apparels yang paling tersohor di seluruh dunia? Jawabannya pasti Louis Vuitton. Merek dagang dengan lambang LV yang menjadi signaturenya ini sudah merambah dunia fashion sejak sekitar tahun 1854; menjadikannya merek apparels pertama yang sukses menembus pasar fashion kelas kakap.

Louis Vuitton sendiri merupakan pria kelahiran 4 Agustus 1821 di Anchay, France. Dirinya menjadi seorang desiner bukan atas kemauannya sendiri. Sebenarnya Vuitton hanya memiliki kemampuan dalam membuat boks kayu. Namun saat Napoleon Bonaparte III ditahbiskan sebagai Kaisar di Perancis, kemampuan Vuitton akhirnya berkembang.

Sang istri Napoleon, seorang permaisuri dari Spanyol, mengetahui bakat Vuitton dalam membuat boks kayu terbaik. Ini membuat dirinya dipekerjakan sebagai pembuat boks kayu khusus pakaian pribadi bagi keluarga Napoleon.

Kesempatan ini membuat Vuitton menjadi sangat terkenal, akibat istri Napoleon yang memperkenalkannya kepada seluruh kolega keluarganya yang hampir semua berasal dari royal family.

Setelah berhenti dari keluarga Kaisar Napoleon III, Vuitton membangun usahanya sendiri bersama sang istri Clemence Emilie Parriaux yang dinikahinya pada 22 April 1854. Mulai dari sini lah, usaha dengan monogram LV (lambang quatrefoils dan bunga) yang meliputi jam tangan, pakaian, sepatu, aksesoris, dsb. mulai menjamur ke seluruh dunia.

Hingga saat ini, perusahaan LV sudah merebak ke 50 negara dengan retail shop yang menyentuh angka 500 toko bertempat di spot-spot kenamaan seperti Galleria Vittorio Emanuele II di Milan, Champs-Élysées di Paris, 66 Plaza di Shangai, The Fifth Avenue di Manhattan, Plaza Senayan di Indonesia dan masih banyak lainnya.

Dengan hasil penjualan sebesar € 9.7 miliar pada tahun 2013, para peneliti saham mengamini kalau pada tahun ini, LV masih tetap merajai brand fashion dunia dengan hasil penjualan terbanyak.

2. Hermès

Merupakan rival terbesar Louis Vuitton. Merek dagang lainnya yang memegang kuasa atas dunia fashion di seluruh dunia. Rumah mode asal Paris ini mengusung tema klasik dan vintage di setiap karyanya; warna-warna terang juga menjadi ciri khas Hermés.

Merek yang satu ini diakui sebagai satu-satunya merek fashion yang tidak ‘tersentuh’ dengan krisis ekonomi global. Pasalnya, masih banyak orang yang rela menggelontorkan uangnya untuk membeli produk Hermés di saat kurs mata uang di negaranya masing-masing sedang anjlok.

Adalah Thierry Hermes, pria kelahiran tahun 1801 di Krefeld, Jerman inilah yang pertama kali membuat rumah mode Hermés. Uniknya, barang-barang yang ia buat sebenarnya bukan untuk manusia, melainkan untuk kuda; mulai dari kekang, saddle, peralatan berkuda hingga kereta barang.

Itu semua ia buat di rumah produksi miliknya di Grand Boulevards, Paris guna memenuhi permintaan para bangsawan Eropa. Seiring bertambahnya usia, Thierry akhirnya mewariskan apa yang ia punya kepada anaknya, Charles-Emille Hermes. Berangkat dari warisan inilah, Charles mulai memproduksi barang-barang selain peralatan berkuda.

Walaupun begitu, barang-barang tersebut masih ada sangkut pautnya dengan kegiatan berkuda para bangsawan, seperti tas kulit, jaket, hingga scarf. Untuk mengenang awal mula Hermés terbentuk, para pewaris Hermés membuat logo yang terbilang unik. Sebuah kuda yang sedang menarik kereta pangeran. Logo ini yang membuatnya semakin dikenal para pemaham fashion.

Akibat perkembangan dunia fashion yang signifikan. Keluarga Hermés akhirnya terpengaruh untuk membuat inovasi baru. Sampai pada tahun 1970, Hermés mulai diakui sebagai brand ternama yang tak kalah baik dari brand kenamaan lainnya seperti Louis Vuitton.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website kamini.id. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”