15.000 Bakpia Diserbu Warga di Kampung Pathuk Yogyakarta

ulinulin.com – Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat warga Kampung Pathuk di Kemantren Ngampilan, Kota Yogyakarta, untuk mengikuti acara Bakpia Day , Sabtu (22/10/2022).

Dalam acara tersebut, 15.000 bakpia dalam bentuk gunungan diperebutkan oleh warga. Namun, salah seorang pengunjung asal Magelang, Sri Wiyatun, tidak berhasil mendapat penganan kecil khas Yogyakarta ini.

“Enggak kebagian, desak-desakan banget, gunungannya roboh desak-desak banget. Seru banget acara ini, saya juga bukan asli orang sini dan baru pertama ikut acara ini,” ujar Sri Wiyatun.

Adapun acara Bakpia Day dan gunungan bakpia merupakan momen berbagi dan wujud syukur atas membaiknya kondisi pengusaha bakpia setelah terdampak pandemi.

Tiga gunungan bakpia diarak terlebih dahulu

Dalam acara ini, masyarakat membuat tiga gunungan bakpia yang masing-masing diberi nama bakpia lanang (laki-laki), bakpia wadhon (perempuan), dan bakpia anak.

Gunungan bakpia lanang dan wadhon memiliki bentuk yang lebih besar dibandingkan bakpia anak.

Sebelum diperebutkan, ketiga gunungan ini diarak mengelilingi kampung terlebih dahulu, diikuti oleh ratusan warga Kampung Pathuk dan Kemantren Ngampilan.

Warga mengenakan berbagai macam kostum saat pawai, mulai dari pakaian tradisional jawa, batik, hingga kostum seperti penari Reog Ponorogo.

Setelah diarak keliling kampung, ketiga gunungan ini kembali ke tanah lapang yang tak jauh dari Kampung Pathuk, sentra usaha rumahan bakpia.

Kegiatan perebutan gunungan bakpia terjadi setelah sesi doa bersama. Warga merangsek untuk memperebutkan bakpia, bahkan anak-anak pun harus menjauh karena berdesakan-desakan dengan orang dewasa.

Sentra usaha bakpia terdampak pandemi Covid-19

Kampung Pathuk telah dikenal sebagai sentra usaha rumahan bakpia, dengan lebih dari seratus pengusaha bakpia rumahan.

Di area ini, selain pengusaha bakpia, ada pula belasan toko oleh-oleh yang membentang dari timur ke barat. Maka, saat periode libur panjang, area ini dipadati oleh bus-bus pariwisata.

Namun, pandemi Covid-19 membuat kampung ini kembang kempis untuk bertahan. Beruntung para pengusaha masih bertahan hingga saat ini ketika pemerintah melonggarkan syarat perjalanan.

Momen tersebut membuat roda perekonomian di Kampung Pathuk kembali berputar.

Namun, hal itu lantas tidak membuat warga menjadi enggan berbagi, mereka justru mengadakan Bakpia Day dan membagikan bakpia kepada warga lainnya.

Bakpia Day, bentuk semangat dan rasa syukur

Ketua Panitia Bakpia Day, Kusmantoro, menyampaikan bahwa acara ini merupakan bentuk semangat menyambut keadaan yang sudah membaik, sekaligus momen saling berbagi antar masyarakat.

Acara ini juga menjadi bentuk ungkapan rasa syukur pengusaha bakpia atas kondisi yang berangsur-angsur membaik dari pandemi.

“Perkembangan kondisi situasi yang mulai membaik ini membuat para produsen kembali bersemangat dan menggeliat untuk kembali berusaha menata serta meningkatkan perekonomian di masyarakat,” ujar Kusmantoro.

Menurutnya, langkah-langkah strategis dibutuhkan dalam meningkatkan kembali perekonomian masyarakat, sehingga usaha ini tetap dapat berkembang dan berkontribusi kepada masyarakat.

“Oleh karena itu sudah sepatutnya kita harus bekerja sama dan bekerja bersama untuk memajukan usaha serta potensi budaya yang ada dengan harapan dapat memberikan langkah yang nyata agar apa yang kita harapkan bisa tercapai,” ucapnya.

Bakpia Day, lanjutnya, juga merupakan acara untuk lebih memperkenalkan kawasan pusat oleh-oleh khas Yogyakarta yang berada di Kampung Pathuk.

Untuk diketahui, kampung ini merupakan tempat cikal bakal terciptanya bakpia. Saat ini usaha penganan tersebut sudah berkembang dengan sekitar 200 produsen atau UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah).

Diharapkan, usaha tersebut bisa mendapat perhatian yang lebih besar lagi baik dari masyarakat Yogyakarta, Indonesia, hingga mancanegara.

“Selain itu juga bisa menjadi salah satu upaya dalam rangka pembangunan ekonomi dan pariwisata berbau kuliner yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website kompas.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”