7 Jenis Warna Kerah Pekerja Berdasarkan Industrinya

ulinulin.com – Tahukah kamu bahwa kelompok pekerja dibagi sesuai dengan warna kerah? Istilah untuk menyebut pembagian ini adalah color collar workers.

Kamu mungkin telah sering mendengar istilah “white collar” atau “blue collar” yang merepresentasikan kelompok pekerja tertentu.

Padahal, kelompok-kelompok pekerja lainnya juga memiliki warna kerah tertentu.

Yuk, cari tahu apa pada kelompok warna kerah apa pekerjaanmu!

Baca Juga: Yuk, Ketahui Arti Warna Baju yang Digunakan untuk Interview Kerja serta Tips Memilihnya!

Sejarah Pengklasifikasian Pekerja Sesuai Warna Kerah

Kelompok pekerja biasanya diklasifikasikan berdasarkan warna kerah yang dikenakan di tempat kerja.

Ini biasanya dapat mencerminkan pekerjaan seseorang atau terkadang jenis kelamin.

Color collar workers adalah sebutan untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok ini.

Mengklasifikasikan pekerja berdasarkan warna kemeja mereka sudah ada sejak awal 1920-an. Pada saat itu, banyak dari mereka yang memiliki pekerjaan perdagang.

Mulai dari penambang batu bara, tukang batu, tukang batu, pembuat ketel uap, tukang las yang melakukan pekerjaan fisik dalam segala jenis suhu, mengenakan warna yang lebih gelap, yang tidak menunjukkan kotoran dengan mudah.

Bukan hal yang aneh melihat mereka mengenakan setelan ketel uap, kemeja chambray, terusan, dan celana jeans serba biru.

Para pekerja ini kemudian dikenal sebagai pekerja kerah biru (blue collar).

Kemudian, pada tahun 1930-an istilah pekerja kerah putih (white collar) diperkenalkan untuk mengidentifikasi pekerja administratif dan kantoran.

Selama bertahun-tahun, kedua kelompok ini menjadi kelompok pekerja dominan yang diidentifikasi berdasarkan warna kerah baju kerjanya.

Namun, saat ini hampir semua kelompok pekerja dari berbagai industri dapat diidentifikasi sesuai dengan warna kerahnya.

Warna Kerah Pekerja Sesuai Jenis Industri

1. Pekerja kerah biru (blue collar)

© Pexels.com

Berkebalikan dengan white collar, blue collar merujuk pada kelompok pekerja yang melibatkan tenaga kerja manual dan kompensasi dengan upah per jam.

Beberapa bidang yang termasuk dalam kategori ini antara lain konstruksi, manufaktur, pemeliharaan, dan pertambangan.

Mereka yang memiliki pekerjaan semacam ini dicirikan sebagai anggota kelas pekerja.

Lingkungan dari kelompok pekerja ini kemungkinan besar berada di luar ruangan atau memerlukan interaksi dengan alat berat atau hewan.

Pekerja kerah biru bisa saja memiliki keterampilan khusus, namun bisa saja tidak.

Jika memiliki, umumnya keterampilan diperoleh melalui sekolah vokasi dibandingkan program gelar sarjana di perguruan tinggi.

2. Pekerja kerah putih (white collar)

© Freepik.com

White collar adalah kelompok pekerja yang pertama kali diidentifikasi berdasarkan warna kerahnya.

Istilah white collar sendiri diperkenalkan oleh penulis berkebangsaan Amerika Serikat Upton Sinclair sekitar tahun 1930-an.

Upton Sinclair menggunakan istilah kerah putih untuk mengidentifikasi pekerja yang berhubungan dengan pekerjaan administratif.

Investopedia menyebut pekerja white collar sebagai kelas pekerja yang dikenal mendapatkan gaji rata-rata yang lebih tinggi dengan melakukan pekerjaan yang sangat terampil, tetapi tidak dengan melakukan kerja manual.

Istilah white collar diambil dari setelan pekerja yang saat itu didominasi kemeja kerah putih dan dasi.

Pekerja dalam kelompok ini biasanya merupakan pekerja pekerja kantor umum dan manajemen.

Dahulu, kelompok pekerja kerah putih umumnya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi sehingga mendapatkan pekerjaan yang nyaman dengan berbagai fasilitas.

Akan tetapi, perbedaan itu saat ini menjadi kabur karena kelompok pekerja kerah putih saat ini merupakan kelompok pekerja yang dominan.

3. Pekerja kerah abu-abu (grey collar)

© HRinasia.com

Pekerja yang tidak dapat diidentifikasikan sebagai kelompok kerah biru atau kerah putih disebut sebagai pekerja kerah abu-abu (grey collar).

HR in Asia menjelaskan bahwa istilah grey collar terkadang juga digunakan untuk menggambarkan pekerja yang bekerja di luar usia pensiun, serta pekerjaan yang menggabungkan unsur-unsur pekerjaan kerah biru dan putih.

Pekerja kerah abu-abu seringkali memiliki gelar diploma di bidang tertentu. Mereka perlu memahami keahlian teknis, kompetensi analitis, dan keterampilan administratif.

Berikut beberapa industri yang termasuk pada kelompok pekerja kerah abu-abu.

    agribisnis dan pertanian

    kesehatan, penitipan anak, dan sektor layanan pribadi

    militer, keamanan dan pertahanan sipil

    industri makanan dan katering

    teknisi teknologi tinggi

    perdagangan terampil, teknisi, dan sebagainya

Baca Juga: Kerap Dihubungkan, Apakah Penampilan Penting dalam Dunia Kerja?

4. Pekerja kerah hijau (green collar)

© nubawie

Istilah green collar pertama kali digunakan oleh Patrick Heffernan pada tahun 1976.

Green collar adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi pekerja yang dipekerjakan di bidang lingkungan pada sektor ekonomi.

Istilah ini muncul seiring dengan pertumbuhan jumlah pekerjaan dengan produk atau layanan ramah lingkungan.

Mulai dari bangunan dan konstruksi hijau, energi terbarukan seperti biofuel, manufaktur ramah lingkungan, dan sebagainya.

Menentukan apakah suatu pekerjaan itu termasuk kelompok kerah hijau, terkadang bisa kabur.

Ini disebabkan beberapa perusahaan terlibat dalam pembuatan produk konvensional dan ramah lingkungan sekaligus.

Ambil contoh, orang yang bekerja di pabrik yang memproduksi baja untuk SUV besar dan turbin angin.

Apakah mereka pekerja kerah hijau atau pekerja kerah biru?

Apakah pengacara yang bekerja untuk perusahaan biodiesel memiliki pekerjaan kerah putih atau kerah hijau?

Jawabannya tergantung pada bagaimana kamu memandang pekerjaan dan tanggung jawabnya.

5. Pekerja kerah merah muda (pink collar)

© Freepik.com

Pekerjaan yang dikategorikan dalam kelompok pekerja kerah merah muda (pink collar) secara tradisional dianggap sebagai pekerjaan perempuan dan seringkali bergaji rendah.

Istilah pink collar dipopulerkan pada akhir 1990-an oleh penulis dan kritikus sosial Louise Kapp Howe, terutama yang melakukan pekerjaan di industri jasa misalnya: perawat, sekretaris, dan guru sekolah dasar.

Saat ini, pertumbuhan pekerjaan kerah merah muda meningkat akibat teknologi.

Banyak pekerjaan yang membutuhkan keterampilan komputer namun tidak membutuhkan keterampilan tingkat lanjut.

6. Pekerja kerah kuning (yellow collar)

© Freepik.com

Seiring dengan berkembangnya industri saat ini, banyak pekerjaan yang membutuhkan keahlian kreatif tertentu.

Yellow color collar workers adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi para pekerja kreatif ini.

Para pekerja dalam kelompok ini mungkin menghabiskan waktu melakukan tugas kerah putih dan biru serta tugas di luar salah satu kategori tersebut.

Misalnya fotografer, desainer grafis, content writer, atau editor.

7. Pekerja kerah terbuka (open collar)

© Freepik.com

Berkembangnya teknologi memungkinkan beberapa pekerjaan dapat dilakukan tanpa meninggalkan rumah.

Kamu mungkin mengenal pekerjaan-pekerjaan ini sebagai pekerjaan remote.

Para pekerja remote ini disebut juga sebagai pekerja kerah terbuka (open collar).

Pekerja open collar ini termasuk pekerja freelance yang bekerja secara jarak jauh.

Kalau kamu tertarik untuk menjadi pekerja remote, kamu bisa memulainya dengan melamar lowongan pekerjaan remote yang tersedia di Glints, lho.

Kamu bisa melamar lowongan pekerjaan dari berbagai bidang industri yang sesuai dengan keahlianmu.

Baca Juga: 5 Mitos Kerja Remote yang Selama Ini Salah Kaprah, Bagaimana Faktanya?

Setelah membaca artikel ini, termasuk kelompok warna kerah apa pekerjaanmu?

Kamu juga bisa mendapatkan informasi-informasi bermanfaat seputar dunia kerja melalui newsletter Glints.

Setiap minggunya, Glints akan mengirimkan berbagai artikel pilihan langsung ke inbox email-mu.

Yuk, buruan daftar sekarang untuk dapatkan newsletter mingguan dari Glints.

Sumber

    White Collar

    What Are Grey-Collar Workers?

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website glints.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”