Agar mesin diesel common-rail tahan lama, lakukan hal berikut ini

ulinulin.com – g src=”https://img.cintamobil.com/resize/600x-/2019/04/05/ifxlHGF3/injektor-600x-405c.jpg”>

Berbeda diesel konvensional, pada diesel common-rail, menggunakan injektor dengan tekanan tinggi untuk menyemprotkan bahan bakar ke dalam silinder. Kerja common rail hampir sama dengan sistem electronic fuel injection (EFI) pada mesin bensin, hanya saja kalau common-rail menggunakan solar. “Melibatkan sensor, ECU dan injektor sehingga pembakaran diatur oleh komputer atau ECU,” sahut bagus Kuswantoro, mekanik bengkel resmi Mitsubishi, Ciwangi Berlian Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi.

Kemampuan injektor common-rail memiliki tekanan hingga mencapai 2.000 bar, sehingga membutuhkan solar yang rendah sulfur

Selain itu, diesel common-rail juga menggunakan injektor dengan kemampuan menyemprotkan bahan bakar yang sangat tinggi, yakni dengan kekuatan antara 1.600 hingga 2.000 bar. Bandingkan dengan diesel konvensional, yang memiliki tekanan di bawah 500 bar. Maka jelas, bahwa diesel common-rail bekerja dengan tekanan yang jauh lebih tinggi, ketimbang diesel konvensional. “Tekanan super tinggi itu, akan membuat solar berbentuk seperti ion ketika disemprotkan ke ruang bakar. Lubang di injektornya saja bisa sehalus ujung jarum dan berukuran mikron,” tambah Bagus.

Ketersediaan diesel berkualitas masih terbatas khususnya di daerah, sehingga butuh pehatian ekstra pada kondisi mesin diesel common-rail

Kiat agar performa dan daya tahan mesin diesel common-rail selalu terjaga performa dan daya tahannya adalah dengan menggunakan diesel berkualitas. Sebagai catatan, mesin diesel common-rail menganjurkan untuk menggunakan solar dengan kandungan sulfur di bawah 300 ppm. Namun masalahnya, ketersediaan kualitas solar berkualitas yang masih terbatas dan sulit ditemui khususnya di luar kota besar, menjadi momok tersendiri bagi pemilik mobil dengan mesin diesel common-rail.

Filter solar yang kotor memiliki resiko besar merusak sistem injeksi common-rail

Sebagai antisipasinya, pemilik mobil diesel common-rail disarankan untuk melakukan penggantian filter solar tepat waktu. Filter solar memang memiliki yang vital pada mesin diesel common-rail. Tujuannya, agar timbunan kotoran dan sulfur tak terlalu lama mengendap di tangki bahan bakar dan filter solar. Sebagai contoh pada Mitsubishi Pajero Sport dan Toyota Fortuner, disarankan untuk mengganti filter solar setiap 10 ribu km.

Disarankan untuk mengganti filter solar setiap 10 ribu kilometer agar performa mesin diesel common-rail tetap terjaga

Dengan melakukan penggantian filter solar yang tepat waktu, bisa meminimalisir timbunan air, kotoran dan sulfur mengendap atau bahkan tersedot hingga masuk ke sistem injeksi common-rail. “Filter solar yang kotor akan membuat timbunan kotoran bisa masuk ke injektor, sehingga menyebabkan kerusakan pada injektor. Padahal harga injektor common-rail sangat mahal, satu unitnya bisa sampai lima jutaan,” wanti Bagus. Sementara harga filter solar sendiri sangat bervariasi, berkisar antara Rp 80 ribu hingga 300 ribu tergantung merek dan tipe mobilnya.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website cintamobil.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”