Batik Printing Dinilai Bukan Kain Batik, Ini Penjelasannya

ulinulin.com – Tahukah kamu, ternyata batik yang dihasilkan lewat teknik printing tidak bisa dikatakan sebagai kain batik, melainkan kain bermotif batik.

Menurut Koordinator Museum Batik Indonesia di Jakarta Timur, Archangela, hal itu berkaitan dengan prinsip batik yang adalah sebuah teknik.

“Yang pasti batik itu syaratnya harus menggunakan lilin malam panas dengan alat canting tulis. Batik printing bukan kain batik, karena syarat batik yang pasti adalah menggunakan lilin malam panas waktu menutup warna,” kata Archangela saat ditemui Kompas.com, Jumat (21/10/2022).

Sementara itu, Kurator Museum Batik Indonesia, Asri, menambahkan bahwa pada prinsipnya, menorehkan lilin malam panas adalah menutup bagian-bagian kain yang tidak mau diberi warna.

Adapun lilin malam panas ini bisa ditorehkan ke kain melalui dua cara, yaitu menulis dengan canting dan alat cap.

Nah, kalau batik tulis perlu menggambarkan polanya terlebih dahulu di atas kain. Namun, untuk teknik membatik cap, hanya perlu mengecap motif di atas kain.

Tapi, tentu saja motif cap pun harus menggunakan lilin malam panas. Bila tidak memakai lilin malam panas, maka tidak bisa disebut batik. Proses pembuatan batik cap pun lebih cepat dibanding batik tulis.

Sebagai informasi, ada juga yang disebut kain serupa batik, namun bukan batik meski menggunakan teknik yang sama dengan membatik.

Misalnya kain ma’a dan sarita yang sakral dari Toraja, dibuat dengan cara merintang warna memakai lilin lebah.

Kemudian ada pula kain simbut berwarna merah tua yang menggunakan bubur ketan sebagai perintang warna.

Komposisi lilin malam dan pewarna alami untuk membatik

Ada beberapa komposisi untuk membuat lilin malam. Mulai dari gondorukem, parafin, microwax, lilin lebah, minyak kelapa, hingga damar mata kucing.

“Lilinnya pun akan diolah menjadi beberapa jenis tergantung pengelolaan, karena untuk merengreng, menembok itu lilinnya agak berbeda komposisinya,” kata Asri.

Sementara itu, terdapat dua jenis pewarna kain batik, yakni sintetis dan bahan alami.

Beberapa bahan alami yang biasa digunakan sebagai pewarna batik di antaranya gambir, pinang, kayu tingi, kulit manggis, akar mengkudu, kayu secang, tarum atau indigofera, dan jolawe.

Agar menjadi pewarna berbentuk pasta, bahan-bahan ini harus melalui proses panjang.

Misalnya saja tanaman indigofera, yang harus difermentasi terlebih dulu, lalu dioksidasi dan ditambah beragam rangkaian lainnya untuk memperoleh warna biru.

“Untuk mendapatkan warna biru pekat ini, tidak bisa sekali saja, kain harus dicelup berulang kali supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan,” ujar Asri.

Menariknya lagi, untuk menghasilkan warna merah darah yang mendominasi batik lasem, misalnya, hanya bisa diperoleh menggunakan air dari kawasan lasem. Hal ini karena kandungan mineral pada air di setiap daerah berbeda-beda.

Bila kamu penasaran apakah batik yang kamu kenakan adalah kain batik atau bukan, bisa mengeceknya menggunakan aplikasi Batik Analyzer .

Kamu cukup mengambil gambar dari batik yang kamu kenakan. Selanjutnya foto tersebut akan dianalisis langsung oleh aplikasi tersebut.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website kompas.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”