Design Thinking Bisa Digunakan oleh Pekerja di Luar Desain, Lho! Pahami di Sini!

ulinulin.com – Dewasa ini, istilah design thinking berkali-kali digaungkan. Ini merupakan metode berpikir tim product designer. Akan tetapi, design thinking ternyata juga bisa dimanfaatkan untuk problem solving di luar bidang desain.

Apakah kamu bertanya-tanya, apa hubungannya pembuatan produk dengan metode penyelesaian masalah?

Glints sudah merangkum informasinya, hanya untukmu.

Apa Itu Design Thinking?

© Pexels.com

Sebelum memahami penerapan design thinking untuk problem solving, ada baiknya kamu memahami dulu, apa itu design thinking?

Dilansir dari Career Foundry, design thinking adalah suatu metode dan proses.

Metode dan proses ini digunakan untuk menyelesaikan masalah kompleks dengan mengedepankan customer atau user.

Selain itu, metode ini juga sering digunakan oleh desainer. Ini merupakan alasan mengapa metode ini dinamakan design thinking.

Dirangkum dari Interaction Design Foundation, ada lima tahapan dalam design thinking, yaitu:

    empathize, memahami pengalaman user sebagai manusia dalam menggunakan suatu produk

    define, menganalisis dan menentukan masalah apa yang selama ini dihadapi oleh user berdasarkan hasil empathize

    ideate, mengumpulkan berbagai pilihan solusi dari masalah yang ada

    prototype, membuat model nyata dari pilihan solusi masalah agar bisa ditentukan mana solusi yang terbaik

    test, melihat seberapa baik solusi tadi dapat menyelesaikan masalah user

Nah, meski sering digunakan desainer, design thinking juga bisa diterapkan untuk hampir semua bidang pekerjaan.

Design Thinking vs Problem Solving Biasa

© Freepik.com

Mengapa design thinking milik desainer bisa diterapkan untuk problem solving di bidang pekerjaan profesional lainnya?

Selain itu, mengapa kamu harus memilih design thinking, bukan metode problem solving yang biasanya?

Dirangkum dari Harvard Business Review dan Canva inilah alasannya:

1. Keterlibatan empati pada user atau customer

Biasanya, inovasi atau pemecahan masalah wajib memenuhi tiga kriteria, yakni solusi yang superior, biaya dan risiko rendah, serta melibatkan diskusi tim.

Sayangnya, metode ini sering memunculkan bias karena sangat mengedepankan kebutuhan perusahaan atau tim.

Penekanan juga ada pada masalah yang ada, alih-alih pencarian solusi dari masalah itu sendiri. Ini bisa menjadi hambatan kreativitas.

Nah, design thinking mengedepankan empati pada user atau customer.

Alih-alih dimulai dari keinginan perusahaan, design thinking mencari solusi berdasarkan apa yang dirasakan oleh user.

Inilah yang membuat design thinking bisa menjadi alternatif dari inovasi atau pemecahan masalah untuk bidang apa pun.

2. Diskusi dan kolaborasi untuk menghindari bias

Nah, selain melibatkan empati pada user, tahap ideate pada design thinking juga memiliki keunggulan.

Pemecahan masalah biasa memang juga melibatkan diskusi. Akan tetapi, diskusinya biasanya tak melibatkan tim secara keseluruhan.

Tiap-tiap orang, utamanya manajer tim, kadang memiliki berbagai bias. Di antaranya adalah terlalu optimis, bias konfirmasi, hingga merasa bahwa solusi di awal diskusi adalah yang terbaik.

Sementara itu, anggota tim lainnya biasanya mengetahui masalah dan kendala, karena terlibat secara langsung di lapangan.

Nah, design thinking bisa mengurangi bias ini, karena semua orang berhak untuk memberikan saran solusi atas masalah yang ada.

Dengan begitu, pilihan alternatif solusi bisa lebih nyata dan menyeluruh.

Demikian paparan informasi dari Glints soal design thinking untuk metode problem solving.

Setelah mengetahui tahapan serta berbagai keunggulannya, apakah kamu tertarik untuk menerapkannya?

Apabila kamu ingin mendapat lebih banyak informasi soal pekerjaan, karier, dan pengembangan diri, kamu bisa mendapatkannya dengan berlangganan newsletter Glints. Daftar sekarang, ya!

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website glints.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”