Dokter Ingatkan Obat Bebas Tak Boleh Diberikan Anak di Bawah 4 Tahun

ulinulin.com

    8SHARES

Ilustrasi

Dream – Merebaknya kasus gagal ginjal akut pada anak membuat banyak pihak kembali mengingatkan kalau konsumsi obat tidak boleh dilakukan sembarangan tanpa rekomendasi atau resep dokter. Terutama pada anak-ank yang usianya di bawah 5 tahun.

Keluhan demam, diare, batuk, pilek, memang sering dialami anak dan sebagai orangtua kita cenderung ingin anak segera sembuh. Langkah yang paling aman adalah jika memang gejalanya tak mereda dan semakin parah dalam 3 hari, segera periksakan ke dokter.

Menurut dr. Melia Yunita, MSc, spesialis anak dalam akun Instagramnya @dr.lia_pediatrics, ia mengingatkan untuk tidak membeli obat-obatan sendiri untuk anak. Selalu konsultasikan dulu dengan dokter untuk mendapat dosis yang tepat.

” Stop kebiasaan beli obat sendiri, ini udah menjamur banget. Obat OTC (obat bebas) batuk tidak boleh diberikan pada anak di bawah usia 4 tahun, antibiotik apalagi, tambah ga boleh diminum sembrangan,” ungkap dr. Lia.

Bila anak demam, dr. Lia menyarankan untuk memberikan banyak cairan. Bisa melalui susu, jus buah asli atau makan buah kaya air. Tidak perlu memakaikan baju yang tebal, cukup menutupi saja dan kompres dengan air hangat akan membantu. Berikan juga asupan kaya gizi.

” Jaga imunitas anak-anak kita, mencegah lebih baik daripada mengobati kan? Nutrisi tidur dan aktivitas fisik yang cukup,” pesan dr. Lia.

Saat demam naik turun dalam 3 hari, segera periksakan ke dokter. Hal ini agar pengobatan jadi lebih aman dan efektif karena dalam pengawasan dokter.

Anak Terlanjur Minum Obat yang Mengandung Etilen, Dokter Anjurkan Hal Ini

Dream – Kasus gagal ginjal anak akut yang saat ini jumlahnya meningkat di Indonesia, menimbulkan kecemasan para orangtua. Badan Pengawas obat dan Makanan (BPOM) pada 20 Oktober 2022 kemarin baru saja merilis produk obat sirup anak yang mengandung etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG).

© MEN

Ada lima produk sirup obat yang biasanya dikonsumsi anak-anak. Pihak BPOM juga sudah memerintahkan apotek tidak menjual obat tersebut dan dokter untuk sementara tidak meresepkan, selama investigasi kasus gagal ginjal anak dilakukan.

Lalu bagaimana jika anak terlanjur meminum obat yang masuk dalam daftar? Dokter Kanya Ayu, spesialis anak, lewat akun Instagramnya @momdoc.id, meminta orangtua memperhatikan kondisi anak setelah minum obat tersebut.

” Gejala akan muncul bertahap dalam 72 jam, sejak minum obat tersebut pertama kali,” tulis dr. Kanya.

Keracunan EG biasanya baru terlihat 30 hingga 1 jam setelah konsumsi obat. Fungsi saraf menurun dan anak kehilangan kesadaran, juga bisa disertai diare dan muntah. Lalu dalam 12 hingga 24 jam, muncul kebiruan pada bibir, wajah dan paru-paru. Daftar Obat

Keracunan EG biasanya baru terlihat 30 hingga 1 jam setelah konsumsi obat. Fungsi saraf menurun dan anak kehilangan kesadaran, juga bisa disertai diare dan muntah. Lalu dalam 12 hingga 24 jam, muncul kebiruan pada bibir, wajah dan paru-paru.

© MEN

Kondisinya bisa akan semakin parah dalam 72 jam ketika produksi urine berkurang. Hal ini menandakan sel ginjal mengalami kerusakan parah dan mengalami gagal ginjal akut.

” Kalau sampai sudah lebih dari 72 jam sejak minum obat tersebut anak kita masih Alhamdulillah sehat, ya berarti aman,” ungkap dr. Kanya.

Ia juga menyarankan untuk memeriksa nomor izin edar obat yang dikonsumsi anak. Bisa saja mereknya sama tapi nomornya berbeda. Bila memang khawatir dengan kondisi anak, konsultasikan dengan dokter spesialis anak agar mendapat pemeriksaan dan rekomendasi yang tepat.

BPOM Umumkan 5 Sirup Obat yang Level Etilen Glikolnya di Atas Ambang Batas

Dream – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru saja merilis sirup obat yang mengandung etilen glikol/ dietilen glikol (EG/ DEG) yang kadarnya di atas ambang. Zat tersebut merupakan bahan berbahaya dan dilarang digunakan dalam pembuatan sirup obat.

Baik EG dan DEG dicurigai jadi pemicu kasus gagal ginjal akut atau Acute Kidney Injury (AKI) di Indonesia. Lewat akun Instagram resmi @bpom_ri, BPOM menuliskan, berdasarkan pengujian terhadap 39 bets dari 26 sirup obat sampai dengan 19 Oktober 2022, ada lima produk yang menunjukkan adanya kandungan cemaran EG yang melebihi ambang batas aman.

Berikut daftarnya:

1. Termorex Sirup (obat demam), produksi PT Konimex dengan nomor izin edar DBL7813003537A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.

2. Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu), produksi PT Yarindo Farmatama dengan nomor izin edar DTL0332708637A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.

3. Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DTL7226303037A1, kemasan Dus, Botol Plastik @ 60 ml.

4. Unibebi Demam Sirup (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL8726301237A1, kemasan Dus, Botol @ 60 ml.

5. Unibebi Demam Drops (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL1926303336A1, kemasan Dus, Botol @ 15 ml.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website dream.co.id. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”