Ferrari Janjikan 296 GTB Tetap Berkarakter Khas, Awal Dari Masa Depan Elektrifikasi

ulinulin.com – JAKARTA – Ferrari telah memasuki era baru yang mulai menyambut hangat teknologi elektrifikasi pada model produksinya. Baru-baru ini telah hadir di Indonesia Ferrari 296 GTB, sebagai model dengan teknologi plug-in hybrid dan mesin V6 turbo. Ini bahkan pertama kalinya sebuah mesin V6 tertanam dalam sebuah model produksi berlabel Ferrari dalam sejarah mereka.

Aplikasi mesin dengan kubikasi lebih kecil dan jumlah silinder lebih sedikit ini sempat membuat para penggemar Ferrari di dunia ragukan 296 GTB. Tentunya karena umumnya downsizing, turbo, dan pengurangan kapasitas berdampak pada suara mesin yang kurang menggelegar. Tapi dengan model barunya ini, Ferrari ingin membuktikan bahwa keraguan tersebut salah.

Hal ini dijelaskan oleh Dieter Knechtel selaku President of Ferrari Far East & Middle East, saat hadiri peluncuran 296 GTB di Indonesia. Disampaikannya, 296 GTB harus dicoba langsung untuk membuktikan bahwa mobil tersebut masih menawarkan sensasi khas Ferrari, termasuk suaranya. Peralihan ke elektrifikasi dan mesin yang mengecil bukan berarti mobil buatan Ferrari kehilangan karakter khasnya.

“Begitu Anda berkesempatan lihat mobil ini beraksi Anda akan lihat buktinya, itu menjadi titik fokus kami karena menganggap mobil ini sangat penting. Saya rasa kami mencapai hasil yang bagus, meski ada perubahan teknologi pada mesin dan berubah menjadi V6,” kata Dieter dalam sesi wawancara eksklusif bersama .

Meskipun suara dihasilkan terpengaruh oleh konfigurasi mesin yang baru, Dieter menegaskan bahwa turbocharger tidak serta merta membuat suara mesin pelan. Hal tersebut tergantung dari bagaimana engineer mengembangkan dan merancang nada yang dihasilkan ruang bakar. Tentunya hal ini demi memenuhi ekspektasi para konsumen dan fanatik Kuda Jingkrak juga.

Riset yang dikerjakan untuk mesin V6 berkapasitas 2.9 liter twin-turbo itu saja sangat banyak, bahkan menjadi salah satu prioritasnya. “Tentunya setiap teknologi mesin punya suara tipikalnya yang berbeda. Mesin V12 suaranya lain dengan V8, dan mesin V6 suaranya berbeda dari V8 sebelumnya. Mesinnya masih pakai turbo dan pada akhirnya kami sangat berhati-hati memastikan suaranya seperti yang diharapkan para konsumen Ferrari,” jelasnya.

Selain mesin agar hasilkan suara yang menggugah hasrat berkendara, 296 GTB juga mendapat perhatian pada pengembangan sisi chassis, aerodinamika, dan pengereman. Karena Ferrari ingin menjadikan model ini sebagai mobil sport yang asik dipacu, tapi mudah dikendalikan juga. Bahkan teknologi aero dari Formula 1 di bawa ke 296, yaitu ‘tea-tray’ atau spoiler kecil di bagian depan untuk hasilkan downforce dengan lebih efisien.

“Karena kami ingin sejalan dengan apa yang ditawarkan dari mobil ini, dan setiap ada mobil baru kami menambah hal baru dan berinovasi pada banyak hal. Jadi dengan begitu mobilnya secara konsisten punya karakter Ferrari yang khas, tapi di sisi lain menjadi mobil yang berperilaku berbeda. Sangat berbeda saat dikemudikan dibanding SF90, karena SF90 dirancang untuk punya performa supercar, 1.000 hp, sangat besar, sementara mobil ini dirancang untuk bersenang-senang,” kata Dieter.

Lahirnya 296 GTB menjadikannya sebagai model hybrid kedua dalam line up Ferrari setelah SF90. Walaupun sebenarnya teknologi elektrifikasi ini lebih dulu diterapkan pada hypercar LaFerrari, tapi baru di SF90 dan 296 sebuah Ferrari bisa melaju hanya dengan tenaga listrik. Keputusan hibridisasi ini terkait langkah Ferrari untuk semakin menyambut era mobil listrik juga.

Tidak bisa dibantah kalau salah satu alasan Ferrari serius pada teknologi hybrid karena tuntutan regulasi terkait emisi yang semakin ketat, terutama di Eropa. Pabrikan bermarkas di Maranello itu perlahan tapi pasti bergerak juga untuk menghadirkan kendaraan yang sepenuhnya tanpa emisi gas buang. Dalam hal ini, yaitu mobil listrik murni.

Dieter bahkan turut mengungkap jadwal Ferrari meluncurkan mobil listrik murni pertamanya, dalam beberapa tahun mendatang. Apalagi melihat para kompetitor di kelasnya juga sudah intens alihkan fokusnya ke arah elektrik.

“Teknologi industri ini bergerak ke arah elektrik, semua pabrikan yang berbeda di dunia punya strateginya sendiri, begitu juga kami. Dan kami akan perkenalkan mobil listrik murni pertama kami pada tahun 2025. Dan menurut tebakan pribadi saya, kalau trennya terus seperti ini, pergerakannya semakin kuat ke arah elektrik,” kata Dieter yang lahir di Wina, Austria itu.

“Beberapa kompetitor sudah ada yang beralih hampir sepenuhnya ke elektrik, tapi bagi kami ini adalah perjalanan menuju ke sana. Kami sebenarnya sudah umumkan beberapa informasi terkait strategi ini, kami tentunya tidak akan hanya menawarkan mobil elektrik.”

Dari kalimatnya di atas ditegaskan bahwa meski nantinya Ferrari produksi mobil listrik murni, tapi tidak akan langsung menggantikan seluruh line up produknya. Bahkan tahun ini Ferrari akan merilis model SUV perdananya.(WAHYU HARIANTONO)

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website carvaganza.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”