G20 Jadi Kesempatan RI Dorong Investor untuk Investasi di UMKM Dalam Negeri

ulinulin.com – – Perhelatan akbar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Indonesia menyedot perhatian dunia, dimana para pemimpin negara akan berkumpul untuk mebahas isu ekonomi global, transformasi digital, dan transisi energi.

Lalu, apa manfaat event international tersebut bagi RI? Apalagi, saat ini banyak negara tengah menghadapi potensi resesi global, di sisi lain Indonesia memiliki trauma runtuhnya industri perbankan di krisis moneter 1997, yang berdampak pada rontoknya sendi-sendi ekonomi dan sosial.

Praktisi Perbankan Abiwodo mengatakan, sejauh ini Indonesia mampu menunjukkan keberhasilan reformasi struktural, antara lain dengan adanya UU Cipta Kerja yang berhasil meningkatkan kepercayaan investor global. Dengan banyaknya Investor, perekonomian di Indonesia akan tumbuh dengan bagus. Dengan begitu, Ketahanan Perbankan di Indonesia juga akan terjaga dengan baik.

“Perhelatan G20 ini menjadi kesempatan besar bagi Indonesia untuk mendorong investor untuk berinvestasi di UMKM dalam negeri. Saat ini investor global Indonesia, 80 persen diantaranya adalah dari negara G20,” kata Abiwodo dalam siaran pers, Senin (14/11/2022).

Abiwodo mengungkapkan, saat ini perekonomian RI saat ini cukup sehat dan kuat untuk menghadapi ketidakpastian global, namun dampak resesi harus diwaspadai. Setidaknya, jika negara-negara besar mengalami resesi, tentu dampaknya juga terasa pada Indonesia.

“Bukan cuma Amerika dan Eropa. Saat ini, perekonomian China juga sedang tidak baik-baik saja. Kita lihat saja, pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2022 adalah 3,2 persen, di bawah target pemerintah yang seharusnya 5,5 persen,” kata Abiwodo.

Di sisi lain, China merupakan pasar ekspor yang cukup besar untuk Indonesia. Sebaliknya, 33,8 persen impor Indonesia berasal dari China. Sebab itulah Indonesia juga harus bersiap dalam menghadapi perlambatan ekonomi dan resesi global 2023.

Belakangan ini, bank-bank sentral berbagai negara secara bersamaan menaikan suku bunganya untuk merespons inflasi. Sudah tentu ketahanan perbankan dipertaruhkan, dan disinilaih Indonesia patut bersyukur dengan adanya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, dan Indonesia didapuk sebagai Presidensi G20 saat ini.

“Seperti yang kita tahu, peran G20 saat ini sangat penting untuk mewujudkan pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif. Artinya, pertemuan, kesepakatan dan kerjasama yang dibuahkan G20 bisa berpengaruh baik bagi pertumbuhan ekonomi sebuah negara,” ujarnya.

Dia menjelaskan, jika pertumbuhan ekonomi baik, pertumbuhan dana masyarakat juga terkerek naik. Dengan begitu, ketahanan perbankan bisa ikut terjaga, sebab ketahanan perbankan sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan dana masyarakat. Alhasil perekonomian pun akan seimbang.

Perhelatan G20 juga meningkatkan sektor pariwisata di Indonesia. Dari perhelatan ini, proyeksi meningkatnya wisatawan mancanegara sekitar 1,8 juta hingga 3,3 juta. Angka ini tentu bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan lagi-lagi pasti berpengaruh baik untuk ketahanan perbankan.

Sementara itu, dalam mewujudkan perhelatan besar sekelas KTT G20 ini melibatkan banyak orang. Paling tidak ada penyerapan tenaga kerja yang cukup besar dalam rangkaian pelaksanaan G20 ini, termasuk kontribusi untuk UMKM secara langsung.

“Tercatat ada penyerapan tenaga kerja sebanyak 33.000 orang dalam perhelatan G20 ini. Sementara dari sektor pariwisata, ada 600.000-700.000 lapangan pekerjaan baru. Dari sini saja sudah terlihat adanya potensi pertumbuhan dana masyarakat, yang akan berpengaruh pada terjaganya ketahanan perbankan,” jelas dia.

Sebagai Presidensi G20, Indonesia berkesempatan terlibat langsung dalam mendesain perekonomian dunia. Salah satunya, desain ekonomi yang dibangun bisa diarahkan untuk meningkatkan ekspor Indonesia.

Dari semua perkiraan pertumbuhan ekonomi dari G20 ini, diperkirakan konsumsi masyarakat juga bisa meningkat. Dengan begitu, pendapatan pajak akan naik hingga lebih dari 18 persen. Pun demikian dengan penerimaan bea cukai yang mencapai lebih dari 24 persen, dan penerimaan PNBP diperkirakan juga akan naik lebih dari 23 persen.