Jauhi Ego dan Emosi Saat Berkendara Agar Suasana Tetap Kondusif

ulinulin.com – g src=”https://img.cintamobil.com/resize/600x-/2019/04/19/f8286LtF/jaga-emosi-45c0.jpg”>

Viral di media sosial jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 lalu seorang pengemudi Toyota Fortuner melakukan aksi tidak terpuji di jalan Tol Pancoran, Jakarta Selatan. Hanya tidak diberi jalan pengendara lain, pelaku yang akhirnya diciduk petugas berwajib ini ngamuk-ngamuk ke pengendara lain. Video yang direkam oleh penumpang mobil korban menunjukkan pria tersebut menyiramkan air mineral sambil teriak-teriak memaksa pengemudi membuka jendela lalu menaiki kap mesin mobil di bagian depan dan terakhir memukul kaca menggunakan kunci mobil secara keras. Beruntung kaca mobil tidak pecah dan seseorang terlihat melerai.

Berharap tidak terulang

Menurut penggiat keselamatan jalan raya dan pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, aksi serupa pengemudi Toyota Fortuner arogan tersebut sebenarnya sering terjadi di jalan raya. Namun tidak semua terdokumentasi. Jusri berharap apa yang terjadi bisa menjadi pelajaran bagi pengguna jalan lain. Tidak hanya di jalan tol, tapi dimana saja dan kapan saja, termasuk untuk pengendara kendaraan roda dua juga.

Pertama pengguna jalan harus memahami segala aturan berkendara. Menilik dari peristiwa yang terjadi, pengemudi Toyota Fortuner ingin mendahului melalui bahu jalan. Secara aturan itu tidak dibenarkan karena bahu jalan diperuntukkan saat kendaraan mengalami kondisi darurat.

Sedangkan yang kedua adalah budayakan empati atau kepedulian di jalan raya. Untuk hal yang kedua ini tidak memandang yang benar harus menang. Terkadang yang benar juga mesti mengalah untuk menciptakan situasi yang kondusif. Soal empati ini yang kadang disepelekan sebagian pengendara. Merasa dalam posisi benar lalu tidak mau sedikit mengalah. Padahal efeknya kadang luar biasa. Seringkali masalah lebih besar berupa konflik, perkelahian hingga saling melukai timbul hanya karena masalah sepele di jalan raya dan tidak ada yang mau mengalah salah satu.

“Sebenarnya banyak yang bisa dijadikan pelajaran, pertama adalah soal pentingnya memahami regulasi soal berkendara, karena bila bicara kesalahan dia lewat bahu jalan sudah jelas salah. Tapi yang paling penting adalah soal empati sesama pengguna jalan, ini yang selama ini kurang disosialisasikan,” tutur Jusri seperti dikutip dari Kompas, (18/4/2019).

Wajib tahan emosi jika ingin suasana berkendara tetap kondusif dan menyenangkan

Seperti kasus di atas, pengemudi Toyota Fortuner dalam posisi salah menyalip melalui bahu jalan. Namun ketika akan masuk ke jalur, mobil korban yang berada di lajur yang benar tidak memberi jalan dengan alasan kondisi lalu lintas macet, ada yang memberitakan agar Fortuner ditilang polisi. Ini yang kemudian memancing emosi dari pengemudi.

“Dari segi kacamata kita mungkin hal tersebut wajar dilakukan korban, karena dia pada posisi benar, sementara si pelaku ini melanggar lalu lintas. Tapi ujungnya kita tidak tahu bila ternyata apa yang menurut kita benar akan menimbulkan konflik dan memiliki risiko kerugian bagi kedua belah pihak,” kata Jusri.

Kasus semacam ini mirip ketika ada kendaraan menerobos jalur berlawanan, sementara pengendara di jalur berlawanan tidak mau menepi karena merasa sudah benar di jalurnya. Karena masing-masing tidak mau mengalah ujung-ujungnya adalah kecelakaan, atau konfrontasi langsung seperti cerita truk adu banteng di Kebumen pada Maret 2017 silam karena tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.

So, jauhi ego dan emosi serta budayakan empati di jalan raya agar suasana tetap kondusif dan perjalanan tetap menyenangkan. Berikut beberapa akibat perilaku sembrono di jalan raya yang terekam kamera:

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website cintamobil.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”