Kaleidoskop 2021: Mobil Elektrifikasi Akan Semakin Menguat Di Tahun Depan

ulinulin.com – JAKARTA – Pada gelaran otomotif GIIAS 2021 bulan November kemarin terdapat 21 mobil listrik yang dipamerkan kepada publik. Sehabis GIIAS di ICE, BSD City, pabrikan mobil DFSK meluncurkan mobil listrik Seres SF5. Kehadiran mobil listrik dan elektrifikasi di GIIAS 2021 itu adalah yang terbesar dalam sejarah pameran mobil di Indonesia dan 2021 bisa disebut sebagai eranya elektrifikasi.

Pertumbuhan kendaraan elektrifikasi pun semakin menguat. Misalnya, baru pada tahun ini pabrikan Hyundai asal Korea Selatan melakukan gebrakan dengan memasarkan dua mobil listrik sekaligus. Yakni Hyundai KONA Electrik dan IONIQ Electric. Pabrikan pun mengajak perusahaan senegaranya, LG, untuk membangun pabrik penghasil baterai listrik untuk memperlihatkan keseriusannya menggarap pasar nasional. Hyundai juga menggarap charging station di sejumlah titik di wilayah Indonesia.

Untuk soal mobil listrik murni, pabrikan Toyota masih kalah dari Hyundai. Toyota lebih banyak memasarkan kendaraan elektrifikasi hybrid yang mengombinasikan mesin konvensional dengan baterai. Dari mulai SUV Toyota Corolla Cross Hybrid sampai Toyota Alphard Hybrid. Untuk mobil listrik murni, Toyota memasarkan UX 300e melalui brand Lexus.

Mengingat perkembangan tersebut, pengamat otomotif Yuniadi Haksono Hartono pernah menyatakan kepada bahwa kendaraan elektrifikasi adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. “Begitu banyaknya mobil elektrifikasi dalam bentuk hybrid maupun listrik yang hadir di GIIAS 2021 memperlihatkan telah terjadi trend elektrifikasi di Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran kendaraan elektrifikasi itu sebuah fenomena yang tidak bisa kita elakkan. Pasalnya, bukan karena cadangan minyak bumi fosil semakin menipis saja, namun Indonesia pada waktu Konvensi di Paris juga telah menyatakan kesiapannya untuk mengurangi emisi karbon sampai 29 persen pada tahun 2030 nanti atau 41 persen dengan bantuan internasional.

Hal ini menandakan, ujarnya, pemerintah sudah memiliki road map kehadiran mobil-mobil elektrifikasi baik hybrid maupun listrik murni yang ramah lingkungan. “Tentu saja kehadiran mobil elektrifikasi menghemat konsumsi BBM nasional kita nantinya,” imbuhnya.

“Mau tidak mau kita harus melakukan sesuatu. Bagaimana mendorong emisi karbon ini harus berkurang. Kita sudah memulai pada tahun 2013 dengan adanya mobil LCGC yang diklaim ramah lingkungan dan sangat efisien bahan bakar dibandingkan mobil sekelasnya sebelumnya. Nah sekarang kita memasuki fase berikutnya yakni era elektrifikasi. Meskipun ada dua pilihan, langsung ke listrik atau secara bertahap. Ada hybrid, plug-in hybrid dan kemudian listrik. Bahkan nantinya fuel cell, “ kata pria yang pernah menggeluti dunia otomotif puluhan tahun itu.

Masyarakat Harus Berubah

“Tapi manapun jalan yang dipilih, ini adalah satu langkah yang memang harus kita lakukan. Ini wajib kita lakukan. Kita tidak bisa mengandalkan hanya pada internal combustion engine karena fakta cadangan minyak bumi sudah makin menipis dan isu pemanasan global. Kita mesti berubah dan melakukan sesuatu, entah itu secara bertahap atau langsung ke mobil listrik itu adalah sebuah pilihan,” timpalnya.

Menurutnya, pada suatu saat nanti kita akan dihadapkan pada masa kelangkaan bahan bakar fosil sehingga untuk menghadapinya harus dirintis langkah dari sekarang. “Mau dari kapan kita melangkahnya? Mobil listrik dan elektrifikasi sedang menjadi trend di dunia, secara otomatis pasar nasional pun akan terdorong untuk itu. Namun skalanya besar atau kecil, itu tergantung serapan pasarnya. Tergantung dari pasar otomotif nasional. Pemerintah sendiri sudah mencanangkan bahwa pada tahun 2025 mendatang, 20 persen mobil yang diproduksi di Tanah Air adalah kendaraan yang berbasis pada listrik, baik itu murni listrik maupun hybrid,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa perkembangan mobil listrik pada tahun 2022 mendatang akan semakin tinggi. “Kita lihat data penjualan mobil elektrifikasi Toyota yang terus meningkat. Di jalan-jalan pun mobil hybrid dan listrik dari Jepang dan Korea sudah bukan menjadi pemandangan aneh lagi. Sudah lumrah.”

“Pemerintah pun sekarang ini sudah menstimulasi pasar dengan ragam kebijakan, termasuk aturan soal insentif pajak mobil listrik. Yang memakai mobil listrik pun mendapat ragam kemudahan. Tapi kebijakan itu belum cukup dan harus diikuti dengan kebijakan-kebijakan lain yang terus menstimulasi pasar mobil elektrifikasi nasional,” kata alumnus sebuah universitas di Jerman ini.

Siapkah pasar Indonesia? “Ya harus siap. Kendaraan yang berbasis listrik mau tidak mau akan hadir dan perlu hadir di pasar nasional,” jawabnya. “Kenaikan penjualan mobil elektrifikasi di Indonesia mungkin di tahun 2022 tidak akan terlalu signifikan, prosentasenya tidak gede banget. Masyarakat masih meraba-raba, mencoba-coba, namun kesadaran di kalangan publik makin tinggi. Meski tak signifikan, mungkin penjualan mobil elektrifikasi nasional tahun depan akan menjadi yang tertinggi dalam penjualan otomotif nasional,” tutupnya kepada . (EKA ZULKARNAIN)

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website carvaganza.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”