Mengenal Sosok Mochtar Lubis, Jurnalis Legendaris yang Merekam Pergulatan Kekuasaan dari Ujung Pena

ulinulin.com – Sosok dan kiprah Mochtar Lubis sudah menjadi satu bingkai sejarah dalam perkembangan jurnalistik di Indonesia.

Selain dikenal sebagai sastrawan, pemikir, pelukis dan penulis tajuk yang tajam, dia sejatinya adalah ‘penyambung lidah rakyat.

Lewat catatan-catatan kerja jurnalistiknya, sehingga membuat sebagian elite kekuasaan di masanya gerah kala Mochtar Lubis menorehkan penanya.

Suaranya adalah ‘suara lain’, tulisan-tulisannya adalah ‘neraka’ bagi mereka yang dikritik Mochtar Lubis .

Tak pelak, kerja jurnalistiknya menjadi jembatan penghubung antara masyarakat dan pemerintah pusat dalam hal ini rezim orde lama ataupun orde baru, dua jaman yang dimana Mochtar menjadi saksi perubahan rezim tersebut.

Mochtar menjadikan kerja jurnalistik sebagai alat perjuangan.

Pria kelahiran Padang 7 Maret 1922 itu, sejak kecil sudah ditempa dengan berbagai bacaan buku-buku asing, mengingat Mocthar kecil lahir dari lingkungan yang berada.

Sang Ayah, yang bernama Marah Husin adalah seorang Pangreh Praja di masa kolonial yang bergelar Raja Pandopatan.

Hal ini, membuat Mocthar kecil tidak kesulitan mencari sekolah yang menjadi minat dan bakatnya.

Pertengahan tahun 1930-an, jelang masa kolonial berakhir, dia dengan sadar memilih studi Jurnalisme saat bersekolah di Hollandsch Inlandsche Scholl (HIS) dan Indonesisch Nederlansche School (INS), keduanya berlokasi di Kayutanam, Padang Pariaman.

Tercatat, selain Mochtar yang bersekolah di sana, terdapat pula nama-nama yang kelak menjadi tokoh dibidangnya, yakni ada Tarmizi Taher (Mantan Menteri Agama), Ali Akbar Navis (Novelis), dan Mochtar Apin (Pelukis).

Berbekal ilmu jurnalisme yang dia dapat di HIS, bakat menulisnya semakin terasah.

Jelang tahun 1940-an, kawan karib dari penyair Chairil Anwar ini, merantau ke Pulau Jawa.

Di Jawa, dia menemukan banyak kawan seperjuangan dalam bidang jurnalistik dan menjadi tandem diskusi ideal dengan Adam Malik, sahabat sekaligus mantan Wakil Presiden Indonesia ke-3.

Bersama dengan Adam Malik, Mochtar muda turut berperan mendirikan sebuah kantor berita bernama Antara.

Sejak itu, namanya semakin dikenal sebagai seorang jurnalis di era revolusi perang fisik.

Usai Indonesia menandatangani kedaulatan Republik dengan Belanda pada tahun 1949, kesadarannya dengan dunia pers semakin tak terbendung sebagai satu alat perjuangan masyarakat, dia pun kemudian mendirikan Harian Indonesia Raya.

Berdasarkan penelusuran Pikiran-rakyat.com dalam periode pertama penerbitan Harian Indonesia Raya, isu awal yang diusung oleh Mochtar dalam editorialnya itu menyoroti 5 isu pokok besar yang tejado pada tahun 1950-an.

Di antara lima isu itu, antara lain adalah pernikahan Bung Karno dengan Hartini, peristiwa gerakan massif di Pulau Jawa, penangkapan Roeslan Abdulghani, peristiwa 17 Oktober 1952, dan pertemuan Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

Pada akhir 1950-an, peran Mochtar Lubis sudah sangat menonjol sebagai wartawan yang disegani lewat Harian Indonesia Raya-nya.

Karena rajin melakukan kritikan-kritikan tajam ke jantung pemerintahan Soekarno ataupun Soeharto, ketika rezim berpindah.

Imbas dari kritikannya itu Harian Indonesia Raya terpaksa dibredel habis oleh penguasa dan Mochtar Lubis terpaksa dipenjara selama 9 tahun.

Tercatat, Harian Indonesia Raya sudah mengalami tujuh kali pembredelan. Penyajian beritanya yang tanpa ragu-ragu, tegas dan menyoroti isu maling uang rakyat (korupsi), nepotisme, serta sikap feodalisme membuat harian legendaris ini gulung tikar untuk selamanya, pada tahun 1974.

Kerja jurnalistik Mocthar Lubis tak hanya dikenal di Indonesia, namun juga di mata internasional.

Media luar menjuluki Mochtar Lubis sebagai ‘wartawan perang’, yang memiliki kemampuan menulis naratif sekaligus lugas saat dia dapat undangan dari PBB untuk meliput perang Korea pada tahun 1950an.

Catatan berita dari Korea-nya itu dia himpun dalam satu buku berjudul Catatan Perang Korea. Di buku tersebut, dia mengkritik habis peran Amerika Serikat yang memicu terjadinya perang saudara di Korea.

Selama 82 tahun hidupnya, pendiri Yayasan Obor Indonesia itu, sudah menerbitkan 53 judul buku, baik novel, cerita pendek, tajuk berita, esai dan buku berupa terjemahan.

Mochtar Lubis meninggal dunia pada 2 Juli 2004 dan dimakamkan di TPU Jeruk Perut, Jakarta.***