"/> Mobil Baru Masih Pakai BBM Premium, Ini Resikonya!

Mobil Baru Masih Pakai BBM Premium, Ini Resikonya!

ulinulin.com – g src=”https://img.cintamobil.com/resize/600x-/2018/10/03/f8286LtF/premium-9689.jpg”>

BBM Premium masih sangat dibutuhkan di beberapa daerah di Indonesia

Berbagai bahan bakar kendaraan bermotor atau BBM tersedia di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Selain Pertalite dan Pertamax sebagai produk paling laris, Premium juga masih dipasok meski volumenya semakin sedikit karena konsumennya yang makin sedikit. Dengan Research Octane Number atau RON 88, oktan Premium memang paling rendah dibanding bahan bakar lain seperti Pertalite (RON 90), Pertamax (RON 92) dan Pertamax Turbo (RON 98).

Nilai RON rendah ini seiring dengan harga Premium yang paling murah dibanding BBM lain. Bisa dipastikan, Premium adalah bahan bakar paling kurang bagus terutama bila dipakai pada mobil-mobil keluaran terbaru yang memiliki kompresi tinggi. Sebagai contoh Suzuki All New Ertiga punya rasio kompresi statis di angka 10,5:1, Toyota Avanza 11:1, Honda Mobilio 10,3:1 dan Mitsubishi Xpander 10,5:1 minimum bahan bakar yang disarankan adalan Pertamax yang memiliki RON 92, bukan Pertalite apalagi Premium.

Penggunaan BBM pada mobil disarankan sesuai dengan rasio kompresi

Tak dipungkiri meski saran tersebut sebenarnya sudah disampaikan oleh dealer sejak awal pembelian, masih banyak pemilik mobil keluaran terbaru menggunakan BBM Premium. Kepala Bengkel Auto2000 Rajabasa Lampung, Totok Trilaksono menuturkan di wilayahnya ada lebih dari 50 persen pemilik Toyota baru menggunakan BBM Premium. Hal ini diketahui dari beberapa konsumen saat mereka melakukan servis, ada beberapa komponen paling sering rusak dan memerlukan penggantian. Ternyata pemiliknya rutin menggunakan BBM Premium.

Berikut penjelasan Totok mengenai resiko menggunakan BBM Premium pada mobil-mobil terbaru yang punya rasio kompresi cukup tinggi.

Secara kesimpulan, menggunakan BBM Premium ini sudah seharusnya mulai dikurangi bahkan ditinggalkan. Kebijakan standar emisi Euro 4 yang ditetapkan pemerintah mulai akhir 2018 ini adalah hal yang tepat meski boleh dikatakan terlambat bila dibanding negara lain yang sudah mulai beralih pada standar emisi yang lebih tinggi. Seperti di Singapura, negara terdekat dengan Indonesia ini sudah menerapkan standar emisi Euro 6 dan tidak ada lagi BBM Premium dipakai untuk mobil.

Namun bukan berarti mobil dengan rasio kompresi tinggi haram sama sekali memakai bahan bakar jenis Premium maupun Pertalite. Mengapa? “Karena mobil modern saat ini memiliki sensor knocking, yang cara kerjanya secara otomatis dapat membuat pengapian menjadi lebih maju ataupun mundur sesuai dengan parameter knocking alias detonasi,” papar Triyono dari Family Auto Service di bilangan Bintara, Bekasi Selatan. Selain itu, angka kompresi yang tertera pada brosur merupakan angka kompresi statis bukan dinamis. Secara teori, angka kompresi dinamis bisa lebih rendah dari angka statis.

Makin tinggi rasio kompresi mobil, makin tinggi pula spesifikasi bahan bakar yang digunakan

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website cintamobil.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”