Multitasking vs Task Switching, Mana yang Lebih Baik untuk Produktivitas Kerja?

ulinulin.com – Dewasa ini, perdebatan antara multitasking vs task switching kerap menjadi perbincangan yang hangat di kalangan profesional.

Mengapa demikian? Pasalnya, kedua soft skill tersebut sering dianggap sebagai cara yang efektif untuk menyelesaikan banyak pekerjaan.

Namun, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa multitasking kurang efektif jika dibandingkan dengan task switching.

Nah, dalam artikel kali ini, Glints akan membahas tentang apa itu multitasking dan task switching, serta skill mana yang lebih baik untuk para pekerja. Yuk, simak pemaparan lengkapnya di bawah ini.

Apa Itu Multitasking?

© theepochtimes.com

Sebelum mengulas multitasking vs task switching, kita harus membahas terlebih dahulu definisi kedua skill profesional.

Nah, sekarang ini, banyak orang menganggap multitasking sebagai kemampuan yang harus dimiliki. Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan istilah tersebut?

Dilansir dari Inc, multitasking adalah kemampuan seseorang untuk melakukan lebih dari satu aktivitas pada saat yang bersamaan.

Istilah ini mulai populer pada akhir tahun 1990-an ketika banyak budaya kerja mengalami perubahan. Sebagai contoh, layanan 24 jam/hari dan 7 hari/minggu semakin berkembang di seluruh dunia.

Selain itu, muncul pula istilah “24-7-365” yang menggambarkan bahwa seseorang dan perusahaan harus bekerja sepenuh tahun demi qamenyelesaikan pekerjaannya.

Dengan demikian, banyak orang terdorong untuk melakukan banyak tugas dalam satu waktu agar pekerjaannya segera selesai.

Namun, istilah satu ini telah menimbulkan banyak pro dan kontra di kalangan masyarakat, terutama di antara para pekerja.

Banyak yang beranggapan bahwa sebenarnya tidak ada satu orang pun yang bisa melakukan lebih dari satu aktivitas pada saat yang bersamaan.

Untuk itu, muncul istilah task switching yang saat ini mulai banyak digunakan masyarakat daripada multitasking.

Apa Itu Task Switching?

© Freepik.com

Seperti yang sudah Glints paparkan, multitasking kerap dianggap sebagai hal yang kuno.

Banyak orang menentang istilah tersebut sebagai kemampuan yang penting. Mereka beropini bahwa multitasking adalah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan.

Lalu, setelah ditinjau kembali, multitasking yang dilakukan banyak orang adalah berpindah melakukan beberapa tugas dengan sangat cepat hingga terlihat seperti melakukan dua hal sekaligus.

Berdasarkan hal tersebut, terminologi multitasking dirasa kurang tepat. Istilah yang lebih sesuai untuk kegiatan tersebut dikenal dengan task switching.

Jadi, menurut Sources of Insight, kita sebenarnya tidak melakukan dua atau lebih kegiatan dalam waktu yang sama. Justru, kita melakukannya secara bergantian dalam waktu yang sangat singkat.

Sebagai contoh, ketika sedang membuat desain user interface (UI) untuk situs perusahaanmu, kamu membuka dan membalas e-mail dari atasanmu. Setelah selesai, kamu kembali melanjutkan desain UI tersebut.

Kamu tidak benar-benar membuat desain sambil membalas email, bukan? Kamu hanya menghentikan kegiatan desainmu sejenak untuk membalas email tersebut. Nah, itulah yang disebut dengan task switching.

Multitasking vs Task Switching

© Freepik.com

Setelah mengetahui definisi dan latar belakang multitasking vs task switching, kesimpulannya, mana yang di antara kedua skill tersebut yang lebih baik?

Nah, sejatinya, banyak penelitian menemukan bahwa multitasking adalah sesuatu yang amat sulit dilakukan.

Misalnya, sebuah penelitian di Stanford University menunjukkan bahwa multitasking tidak benar-benar dapat terjadi, seperti dikutip dari Psychology Today.

Adapun penelitian Clifford Nass yang menyebutkan bahwa ketika seseorang diminta mengerjakan banyak hal sekaligus, mereka tidak dapat fokus dan mengingat dengan baik.

Sekilas, multitasking memang terkesan keren dan bisa dijadikan sebagai teknik yang efektif dalam mengerjakan banyak tugas.

Namun menurut Very Well Mind, multitasking justru dapat mengurangi produktivitas sebanyak 40%. Angka yang besar, bukan?

Hal ini bisa terjadi karena otak kita sebenarnya tidak memiliki kemampuan yang baik untuk menyelesaikan banyak pekerjaan sekaligus seperti yang kita pikirkan.

Jadi, kesimpulannya task switching adalah skill yang lebih efektif daripada multitasking. Kamu bisa mengerjakan banyak hal secara bergantian agar otakmu lebih fokus bekerja.

Sementara itu jika melakukan multitasking, kamu terancam tidak fokus dan kesulitan untuk menghasilkan kinerja yang maksimal.

Itulah penjelasan Glints tentang multitasking vs task switching serta pro dan kontranya bagi pekerja profesional.

Dari apa yang sudah Glints paparkan, semoga kamu bisa memilih skill yang dapat tingkatkan produktivitas di tempat kerja.

Nah, selain kedua skill di atas, kamu bisa pelajari kemampuan lainnya yang bisa tingkatkan kualitas kerja di Glints ExpertClass.

Para pakar dan profesional ternama siap membagikan ilmu mereka untukmu di kelas kategori personal development.

Tunggu apa lagi? Yuk, cek kelasnya sekarang juga. Jangan sampai ketinggalan. Kuota kelas terbatas!

Sumber

    Multitasking

    Supertaskers: How Some People Task-Switch Faster and How You Can Too

    The True Cost of Multi-Tasking

    How Multitasking Affects Productivity and Brain Health

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website glints.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”