Pejabat The Fed Kirim Sinyal Buruk, Wall Street Dibuka Merah

ulinulin.comJakarta, CNBC Indonesia – Dua dari tiga indeks utama Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Senin (14/11) pagi waktu New York setelah pekan lalu membukukan kenaikan mingguan terbesar dalam hampir lima bulan mengikuti pengumuman data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan.

S&P 500 dibuka turun 0,6%, Nasdaq Composite yang padat teknologi turun 1,2%. Adapun indeks blue chip Dow Jones Industrial Average dibuka naik 24 poin atau menguat 0,1%.

Sektor teknologi S&P turun sekitar 1%, setelah membukukan minggu terbaiknya sejak April 2020 di sesi sebelumnya.

S&P 500 melonjak 5,9% pekan lalu dan mencatatkan kinerja mingguan terbaik sejak Juni. Hal ini terjadi karena investor menyambut positif pembacaan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, bertaruh bahwa Federal Reserve akan segera memperlambat kampanye pengetatan agresifnya. Indeks lainnya juga ikut terbang pekan lalu dengan Nasdaq naik 8,1%, kinerja mingguan terbaiknya sejak Maret, serta indeks Dow naik 4,2%.

Indeks Volatilitas Cboe, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street atau VIX, turun 1 poin menjadi 22,5, mencapai level terendah sejak Agustus. VIX, yang melacak volatilitas tersirat 30 hari dari S&P 500, sebelumnya diperdagangkan di atas ambang batas 30 poin pada mayoritas bulan Oktober.

Namun, salah satu pejabat The Fed malah mengirimkan sinyal buruk ke pasar. Hari ini saham merayap turun dan imbal hasil obligasi meningkat setelah Gubernur Fed Christopher Waller mengatakan investor bereaksi berlebihan terhadap data inflasi yang lemah minggu lalu. Dia mengatakan pasar harus bersiap untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Sementara itu, dampak negatif terus menyebar pasar kripto. Harga Cryptocurrency goyah, dan bursa kripto Hong Kong Huobi Global menjadi nama baru yang terjerat dalam pusaran kasus FTX.