Penguatan ‘Socialpreneurship’ Jalan Mewujudkan Ekonomi Sirkular

ulinulin.com – JAKARTA – GIZ Indonesia, aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai stakeholders, baik pemerintah, swasta dan NGO, dalam merumuskan berbagai program dan solusi untuk meningkatkan kesadaran produsen dalam menggunakan produk-produk kemasan plastik bernilai ekonomi tinggi yang dapat didaur ulang. Langkah ini merupakan bagian dari kampanye “Rethinking Plastics – Circular Economy Solutions to Marine Litter,” yang dilakukan Uni Eropa melalui GIZ.

Proyek yang dibiayai oleh Uni Eropa dan Republik Federal Jerman, melalui Kementerian Federal Jerman untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan (BMZ) ini mendukung transisi menuju ekonomi sirkular untuk plastik dan konsumsi dan produksi plastik berkelanjutan di negara-negara Asia Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia untuk berkontribusi pada pengurangan sampah laut yang signifikan.

Dalam laporan akhir “Analisa Potensi Model Bisnis Isi Ulang (Refill) dan Toko Curah dalam Rangka Menggantikan Peran Kemasan Sachet” dari proyek Rethinking Plastics tersebut, terungkap bahwa toko curah/isi ulang sebagai social entrepreneurship, memiliki motivasi lingkungan dan sosial yang lebih kuat dibandingkan motivasi ekonomi.

Menurut hasil rekomendasi dari laporan tersebut, hal ini “perlu didorong, dibina, diapresiasi, dan dikampanyekan kepada masyarakat luas, sebagai salah satu alternatif yang mendukung tegaknya PermenLHK no. 75/2019, agar dengan keuntungan kecil masih dapat terus bertahan dan berkembang.”

“Termasuk di dalam dukungan tersebut adalah pengembangan regulasi, panduan dan standar penjualan produk curah/isi ulang yang legal, higienis dan aman. Ekosistem bisnis curah/isi ulang memerlukan regulasi, panduan dan standarisasi terkait dengan penyediaan produk berukuran besar oleh manufaktur, pendistribusian produk curah/isi ulang oleh distributor dan ritel (termasuk toko curah/isi ulang), penyediaan dan penggunaan dispenser pengisian ulang produk, penyediaan dan penggunaan kemasan pakai ulang, layanan konsumen, pengawasan, serta insentif dan disinsentifnya,” demikian tulis laporan yang dikutip, Sabtu (29/10/2022).

Disebutkan, kinerja pengurangan kemasan sekali pakai, baik saset maupun ukuran besar, yang dilakukan toko curah/isi ulang, produsen/manufaktur, distributor, dan ritel “sebaiknya diapresiasi dan diperhitungkan dalam pengurangan sampah di tingkat nasional untuk meningkatkan kebanggaan dan motivasi mereka,” tambah laporan dari proyek yang dikerjakan oleh GIZ tersebut.

Hal ini merupakan kabar baik, karena ternyata telah banyak bermunculan inisiatif komersial yang dilakukan oleh kelompok wirausaha sosial yang peduli, untuk memberi alternatif opsi bagi konsumen agar dapat menghindari penggunaan kemasan plastik termasuk saset.

Laporan GIZ tersebut adalah berdasarkan sebuah studi yang dilakukan untuk memahami sejauh mana model bisnis ini dapat memberikan solusi jangka panjang bagi produsen untuk berpartisipasi dalam implementasi pengurangan limbah; kebutuhan kebijakan untuk meningkatkan model bisnis baru ini; serta memahami potensi implikasi dari penghapusan saset secara bertahap dan kemunculan model bisnis baru ini.

“Toko curah (bulkstore) yang menjual produk tanpa kemasan, dan bisnis isi ulang bergerak (mobile) seperti Siklus, kini semakin berkembang dan mudah ditemui di kota-kota besar seperti Jakarta. Beberapa produsen produk konsumsi tertentu juga telah melakukan uji coba pendirian stasiun isi ulang untuk produknya di toko curah,” demikian tulis laporan tersebut.

Secara tidak langsung, para pelaku bisnis tersebut sudah turut melakukan implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) untuk meningkatkan kualitas dan sistem pengemasan daur ulang.

Untuk memastikan penghapusan saset dapat terjadi dengan baik pada tahun 2030, KLHK direkomendasikan untuk berkoordinasi dengan K/L terkait, FMCG, UMKM, ritel, distributor, konsumen, media massa, dan akademisi untuk mengembangkan ekosistem bisnis penjualan produk curah/isi ulang yang kondusif agar transisi dari saset dapat diterapkan perlahan dan dipersiapkan alternatifnya.

“Kampanye nasional perlu dibuat untuk memperkenalkan dan menularkan gaya belanja baru tersebut. Sebagai social entrepreneur, toko curah/isi ulang memiliki motivasi lingkungan dan sosial yang lebih kuat dibandingkan motivasi ekonomi, sehingga perlu diperkuat dan didukung oleh semua pihak agar dengan keuntungan kecil dapat terus bertahan dan berkembang,” demikian tulis laporan tersebut.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website investor.id. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”