Profil Gus Dur, Presiden Keempat Indonesia Berjuluk Bapak Pluralisme

ulinulin.com – Lahir pada tanggal 4 Agustus 1940 di Jombang, Jawa Timur, Gus Dur merupakan putra dari pasangan K.H. Wahid Hasyim dan Hj. Sholehah. Ayah Gus Dur merupakan pahlawan nasional.

Gus Dur terlahir dari keluarga yang sangat dihormati oleh komunitas muslim di Jawa Timur. Kakek dari pihak ayahnya, K.H. Hasyim Asyari, merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Kemudian, kakek dari ibunya, K.H. Bisri Syansuri, merupakan pengajar pesantren yang menggagas kelas ajar untuk perempuan pertama kalinya.

Sejak kecil, Gus Dur memiliki minat membaca yang tinggi dan selalu memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Dia sudah akrab dengan beragam jenis karya tulis sejak umurnya masih belasan tahun. Bukan hanya membaca, dia juga gemar bermain bola, catur, dan musik.

Gus Dur menempuh pendidikan dasarnya di SD KRIS, kemudian pindah ke SD Matraman Perwari. Dia tinggal di Jakarta pada tahun 1944 hingga 1952. Pada tahun 1954, Gus Dur menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama. Namun, ibunya kemudian mengirim Gus Dur ke Pondok Pesantren Krapyak karena sempat tidak naik kelas.

Lulus pada tahun 1957, Gus Dur memutuskan pindah ke Magelang dan menempuh pendidikan di Pesantren Tegalrejo. Dia dikenal sebagai pelajar berbakat yang menyelesaikan pendidikan dalam waktu dua tahun lebih singkat dari seharusnya. Tidak berhenti sampai di situ, Gus Dur kemudian pindah ke Pesantren Tambakberas, Jombang, sambil menjalani pekerjaan pertamanya sebagai guru.

Pada tahun 1963, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, melalui beasiswa dari Kementerian Agama. Di Mesir, Gus Dur mempelajari ilmu Islam dan bahasa Arab. Gus Dur menempuh pendidikannya di Mesir dalam waktu dua tahun lebih dan memutuskan untuk pindah ke Irak pada tahun 1966.

Gus Dur menyelesaikan studinya di Universitas Baghdad pada tahun 1970. Selama menempuh pendidikan di Irak, Gus Dur aktif dalam Asosiasi Pelajar Indonesia. Sebelum kembali ke Indonesia pada tahun 1971, dia sempat bersekolah di Jerman dan Perancis.

Pada tahun 1971, dia memilih untuk kembali ke Jombang dan menjadi pengajar. Kemudian, dia bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng, Jombang. Tak hanya menjadi pengajar, ia pun kembali menuliskan gagasan-gagasan dari pemikirannya.

Gus Dur kemudian pindah ke Jakarta pada tahun 1979 dan membangun Pesantren Ciganjur. Gus Dur merupakan Ketua Umum PBNU yang terpilih pada muktamar ke-27 yang digelar di Situbondo pada tahun 1984. Pada Muktamar ke-28 di Pesantren Krapyak Yogyakarta dan Muktamar ke-29 di Cipasung, Jawa Barat, tahun 1989 dan 1994, Gus Dur kembali mengemban amanah tersebut. Gus Dur melepas jabatan Ketua Umum PBNU saat menggantikan BJ Habiebie menjadi Presiden Indonesia pada tahun 1999.

Gus Dur merupakan sosok yang dikenal sebagai Bapak Pluralisme , tak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Gus Dur berpihak pada kelompok minoritas dan dekat dengan seluruh kalangan umat beragama. Saat menjabat sebagai Presiden, Gus Dur memberikan pemulihan pada hak politik etnis Tionghoa. Ia juga mengeluarkan Keputusan Presiden di tahun 2000 yang memuat aturan bahwa perayaan Imlek dapat dilakukan dengan terbuka.

Melalui kepemimpinannya, Gus Dur memberikan pelajaran berharga bahwa demokrasi bisa diwujudkan di tengah masyarakat yang majemuk. Kepemimpinannya berakhir pada tahun 2001 setelah mandatnya dicabut oleh MPR.

Gus Dur menerima berbagai penghargaan yang prestisius. Pada tahun 1993, Gus Dur dianugerahi Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan dalam bidang kepemimpinan komunitas. Dia juga menerima penghargaan dari Simon Wiesenthal Center yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Tak hanya itu, Gus Dur juga mendapat penghargaan dari Mebal Valor karena keberaniannya membela kaum minoritas. Pada tahun 2006, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memberikan Tasrif Award-AJI pada Gus Dur sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006.

Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah. Ia merupakan ayah dari empat anak perempuannya, yaitu Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh atau yang dikenal sebagai Yenny Wahid, Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Gus Dur mengembuskan napas terakhirnya pada 30 Desember 2009 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, karena komplikasi berbagai penyakit yang dideritanya. Kemudian, Gus Dur dimakamkan di Pemakaman Maqbarah Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. (Anggita Laras Syanlindri)***