Sempat Bergerak Galau, IHSG Sesi I Dibanting Ke Zona Koreksi!

ulinulin.comJakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi pada penutupan perdagangan sesi I Rabu (2/11/2022), setelah sempat menghijau sesaat tadi pagi. Melemahnya IHSG sejalan dengan ambrolnya bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan semalam.

Indeks acuan Tanah Air dibuka stagnan di posisi 7.052,3 dan ditutup di zona merah dengan koreksi 0,43% atau 30,59 poin, ke 7.021,72 pada penutupan perdagangan sesi pertama pukul 11:30 WIB. Nilai perdagangan tercatat turun ke Rp 7,27 triliun dengan melibatkan lebih dari 14 miliar saham yang berpindah tangan 788 kali.

Melihat pergerakan perdagangan, sesaat setelah perdagangan dibuka IHSG sempat menghijau tetapi selang 1 menit saja indeks terlempar ke zona merah, melemah 0,07% ke 7.047,45. Pukul 09:10 WIB IHSG justru berbaik arah, terpantau menguat 0,04% ke 7.054,99.

Alih-alih bertahan melanjutkan penguatan, sesaat kemudian indeks langsung dibanting ke zona merah dan melanjutkan koreksi hingga penutupan perdagangan sesi I.

Level tertinggi berada di 7.074,23 sekitar 10 menit setelah perdagangan dibuka, sementara level terendah berada di 7.006,45 sekitar pukul 11:15 WIB.

Mayoritas saham siang ini terpantau mengalami penurunan. Statistik perdagangan mencatat ada 252 saham yang melemah dan 247 saham yang mengalami kenaikan, serta sisanya sebanyak 184 saham stagnan.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi saham yang paling besar nilai transaksinya siang ini, yakni mencapai Rp 340 miliar. Sedangkan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menyusul di posisi kedua dengan nilai transaksi mencapai Rp 286,2 miliar dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) di posisi ketiga sebesar Rp 241,8 miliar.

Melemahnya IHSG siang ini sejalan dengan Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali ditutup ambles pada perdagangan di awal bulan November 2022. Indeks Dow Jones turun 0,24%, indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah 0,41% dan 0,89%.

Volatilitas di pasar aset-aset berisiko seperti saham masih dirasakan oleh berbagai pihak terutama investor.

Selain itu, ada penurunan yield obligasi AS (US Treasury Note). Untuk diketahui, yield obligasi negara acuan AS tenor 10 tahun sempat turun ke bawah 4%. Namun penurunannya hanya 3 basis poin (bps) saja dan masih dalam tren naik.

Para pelaku pasar saat ini tengah fokus menanti pengumuman kebijakan moneter The Fed pada Kamis (3/10/2022) dini hari waktu Indonesia.

Bank sentral paling powerful di dunia ini diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 3,75% – 4%.

Pasar sudah jauh-jauh hari mengantisipasi kenaikan tersebut, jika The Fed juga memberi kejutan, tentunya akan berdampak positif ke pasar finansial global, termasuk Indonesia. Pun, jika tidak ada kejutan, pasar akan melihat bagaimana proyeksi kenaikan ke depannya, apakah akan dikendurkan juga, mengingat pendapat para pejabat The Fed sudah terbelah.

Melansir FedWatch, sebanyak 87,2% analis memprediksikan Fed akan menaikkan suku bunga acuan 75 bps dan mengirim tingkat suku bunga ke 3,75%-4%. Sementara 12,8% memproyeksikan kenaikan 50 bps.

Bukan hanya The Fed, harga komoditas, kinerja keuangan emiten dan pergerakan nilai tukar patut diwaspadai menjadi katalis negatif bagi indeks acuan Tanah Air.

Di pasar komoditas, harga batu bara memang naik 1,39% ke US$ 369/ton. Namun harga batu bara telah anjlok tajam dibandingkan dengan awal bulan September 2022 yang mencapai US$ 463/ton.

Anjloknya harga batu bara acuan global juga membuat saham-saham emiten batu hitam Tanah Air terkena pukulan telak.

Dari sisi nilai tukar, rupiah juga melemah 9,65% sepanjang tahun ini. Bank Indonesia (BI) melihat bahwa tekanan yang dihadapi rupiah ke depan masih akan besar seiring dengan agresivitas bank sentral AS untuk mengerek naik suku bunga.

Dengan harga komoditas yang mulai melandai dan peluang pelemahan rupiah, katalis positif untuk mendorong penguatan harga aset investasi domestik menjadi terbatas. Investor kini hanya bisa menaruh harapan pada amunisi terakhir yaitu kinerja keuangan emiten kuartal III-2022.

Dari beberapa emiten yang sudah merilis kinerja kuartal III-2022, hasilnya memang masih baik. Laba bank-bank kakap yang menjadi proxy untuk kesehatan pasar modal Indonesia masih tumbuh positif.

Di sisi lain pelaku pasar masih mencermati rilis data dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait inflasi periode Oktober 2022 mencapai 5,71% secara year on year (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yaitu 5,95%.

Inflasi menjadi faktor yang paling penting untuk dikendalikan saat ini. Sebab, terkait dengan daya beli masyarakat. Semakin tinggi inflasi maka daya beli masyarakat akan menurun, dan berdampak ke pertumbuhan ekonomi. Dengan inflasi yang bisa dikendalikan, maka perekonomian yang terus tumbuh dan semakin menjauhi resesi.

TIM RISET CNBC INDONESIA