Smart Contract Cardano Resmi di Main Net, IOHK Akui dApp Mungkin Rentan Peretasan

ulinulin.com – Smart contract perdana Cardano akhirnya resmi meluncur di main net di blockchain Cardano pada 12 September 2021, di epoch ke-129. IOHK, organisasi pengembangan Cardano mengakui dApp (aplikasi terdesentralisasi) mungkin rentan peretasan jika tanpa penerapan smart contract yang mumpuni.

Smart contract kali pertama itu menjadi tonggak sejarah penting bagi Cardano. Ditambah kecepatan dan volume transaksi yang tinggi, fitur itu digadang-gadang sebagai lawan baru telak terhadap blockchain Ethereum yang smart contract-nya sudah melaju sejak tahun 2015.

Kripto ADA tetap di 5 besar, begitupun kripto ETH, sebagai penanda jelas luasnya use case teknologi itu.

Melalui blog-nya, IOHK mencatat bahwa peluncuran smart contract berbasis bahasa pemrograman Plutus itu adalah peluang besar sekaligus pekerjaan rumah baru bagi mereka.

Peluang besarnya tentu saja akan memungkinkan terbitnya banyak token yang berjalan di blockhain Cardano.

Belum lagi akan hadirnya proyek DeFi, bagian dari sektor dApp. Selain itu akan banyak NFT (Non-Fungible Token) yang dibuat di atas Cardano. Nilai NFT sendiri melonjak sejak pandemi, mencetak triliunan rupiah setiap hari.

dApp Rentan Peretasan Jikalau…

Hanya saja, IOHK tidak bisa menampik rentannya dApp dari upaya peretasan. Pasalnya, walaupun secara teknis smart contract sudah apik, tetapi ketika diterapkan dalam langkah programming oleh si empunya dApp, maka celah peretasan tetap saja terbuka.

“Di awal-awal pasca smart contract di main net ini, beberapa dApp awal akan mengalami masalah. Ini tidak bisa dihindari. Bahkan beberapa dApp mungkin terbukti tidak aman. Blockchain Cardano dan smart contract berbasis Plutus memang dirancang sangat aman. Namun, kalau dalam praktik pengkodean buruk, selalu dapat menimbulkan risiko bagi pengguna dApp, termasuk peluang adanya peretasan,” sebut Tim Harrison Direktur Pemasaran dan Komunikasi IOHK.

Tentu saja Harrison merujuk pada kasus-kasus eksploitasi yang menerba aplikasi berbasis blockchain akhir-akhir ini. Kasus Poly Network bernilai US$600 juta adalah salah satu yang berdampak buruk bagi dunia blockchain-kripto.

Walaupun peretas telah mengembalikan semua kripto yang dicurinya, itu masih membuktikannya betapa sangat mudanya teknologi blockchain walaupun selaras dengan naiknya nilai pasar kelas aset kriptonya.

Harga ADA Justru Anjlok

Harga ADA justru anjlok beberapa hari menjelang peluncuran smart contract ini. Setelah melaju di puncak US$3 pada 2 September 2021 lalu, harga ADA per 13 September 2021, bertengger di US$2,43. [ps]

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website blockchainmedia.id. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”