Startup Hadapi Banyak Tantangan, KemenkopUKM Gandeng Lembaga Inkubator

ulinulin.com – Deputi Bidang Kewirausahaan KemenKopUKM Siti Azizah mengatakan, bisnis startup di Indonesia berkembang cukup pesat dalam beberapa tahun belakangan. Meski demikian, ada sejumlah permasalahan yang dihadapi perusahaan rintisan tersebut.

Hal tersebut disampaikan dalam acara Demoday Inkubasi Usaha bertajuk, Connecting Pentahelix, Build Networking, dan Infuse Smart Solution Technology to The Society di Denpasar Selatan, Bali.

Berdasarkan hasil riset Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), ia menjelaskan, pada tahun 2021 sebanyak 34,1 persen persoalan utama startup adalah modal.

Sementara, sebesar 13,3 persen startup mengalami masalah regulasi dan 12,9 persen menghadapi masalah pasar.

“Sementara, sebanyak 12,3 persen startup di Indonesia memiliki masalah strategi, 18,7 persen menyatakan akses sumber daya manusia (SDM) menjadi permasalahan utama mereka, dan 8,8 persen memiliki masalah terkait fasilitas,” jelas dia dalam siaran pers, dikutip Senin (14/11/2022).

Berdasarkan hasil riset tersebut, Azizah menambahkan, program Peningkatan Kapasitas Startup tahun 2022 menjadi salah satu upaya KemenKopUKM dalam membantu pembinaan dan pengembangan startup di Indonesia.

“Melibatkan Lembaga Inkubator di daerah sebagai mitra dalam implementasi programnya,” imbuh Azizah.

Ada tujuh target KemenKopUKM di tahun 2024, salah satunya menargetkan akan melahirkan 3.500 startup berbasis teknologi dan informasi.

Azizah memerinci, dalam Peningkatan Kapasitas Startup tahun 2022, dari target 100 Startup telah terjaring sebanyak 125 startup yang berasal dari tujuh mitra lembaga inkubator.

Tujuh mitra tersebut adalah Inbistek STP-Universitas Andalas sebanyak15 startup, Skystar-Universitas Multimedia Nusantara sebanyak 16 startup, Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi-Institut Pertanian Bogor (IPB) sebanyak 15 startup.

Selain itu, mitra lembaga inkubator Oorange-Universitas Padjajaran menghasilkan sebanyak 18 startup, Inbistek Technopark-UPN Veteran Jawa Timur sebanyak 23 startup, IBISMA-Universitas Islam Indonesia sebanyak 22 startup, dan Inkubator Bisnis-STIKOM Bali sebanyak 16 startup.

Sementara, Rektor Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali Dadang Hermawan menambahkan, ia berkolaborasi dengan berbagai pihak, serta melakukan hilirisasi dalam bidang teknologi, salah satunya pengembangan startup.

“Jumlah mahasiswa kami ada sekitar 6.000 orang. Lebih dari 70 persen dari Bali, dan sekitar 30 persennya di luar Indonesia, seperti Jepang, Jerman, dan sebagian lainnya dari Timur Leste,” katanya.