Suar Muntah Darah, Kisah Dahlan Iskan Menjadi Penyintas Kanker Hati

ulinulin.com – Nyaris 14 tahun, Dahlan Iskan menjalani hidup sebagai penyintas kanker hati atau liver.

Tapi, energi sosok mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini seolah tak pernah habis untuk membagikan perjuangannya bergelut melawan penyakit yang menggerogoti organ liver-nya.

Dahlan membagikan sepenggal perjalanan hidupnya melawan kanker hati di acara bincang-bincang Semangatku, Semangatmu Mengalahkan Kanker Hati via Instagram Live bersama Cancer Information and Support Center (CISC), Sabtu (17/10/2020).

“Hidup ini terlalu indah kalau hanya dilewatkan dengan kanker,” ujar Dahlan penuh semangat, di hadapan seratusan peserta yang menyimak sesi obrolan tersebut.

Ingatan Dahlan lantas kembali diputar ke masa belasan tahun lalu, untuk mengajak peserta mengenal awal perjalanannya melawan kanker hati.

Laiknya penderita kanker hati lainnya, pria yang kini nyaris berusia 70 tahun ini berkisah, semula ia tidak menyadari jika kanker telah bersarang di salah satu organ vitalnya.

“Saya telat tahu karena asyik bekerja dan bekerja dan bekerja. Kerja paling cepat sampai jam tiga pagi. Paginya sudah bekerja lagi,” kenang Dahlan.

Ia sempat tidak merasakan gejala kanker hati di tubuhnya. Sampai, suatu ketika Dahlan mengalami muntah darah.

“Saya tidak merasakan apa-apa di tubuh saya. Tahu-tahu muntah darah,” ujar dia.

Dahlan mengisahkan, sebelum didiagnosis kanker, ia merupakan pengidap hepatitis B. Ia semula tidak mengetahui muasal penyakit yang menyerang organ hati tersebut.

Namun, belakangan ia menyadari jika ibu, kakak, dan sepupunya juga memiliki riwayat gejala serupa hepatitis B dan meninggal karena penyakit tersebut di usia kurang dari 40 tahun.

Sebagai sosok yang dibesarkan di perdesaan, Dahlan menyebut pengetahuannya mengenai higienitas saat masih kecil minim, dan akses vaksin pencegahan hepatitis belum ada seperti saat ini.

“Semula saya tidak tahu hepatitis B menyebabkan sirosis. Saya juga tidak tahu sirosis jalan menyebabkan kanker. Tahu-tahu muntah darah, ke dokter, dan ditemukan banyak gelembung darah di saluran pencernaan yang siap pecah,” kata dia.

Berawal dari situ, Dahlan mengetahui jika di liver-nya bersarang tiga buah kanker berukuran cukup besar dan puluhan bibit kanker.

Turun mesin

Dahlanbercerita dirinya sempat menjalani beberapa jenis perawatan untuk menyembuhkan penyakit kanker hatinya.

Ia pernah menjalani prosedur medis untuk memutus saluran darah pemasok makanan untuk kanker. Namun, selang sebulan kanker terpantau masih bertahan berbekal asupan dari saluran darah baru.

Singkat cerita, Dahlan akhirnya mengambil keputusan menjalani operasi transplantasi hati di Tianjin First Central Hospital China, pada 6 Agustus 2007.

Keputusan yang ia sebut dengan istilah “turun mesin” itu dibuat bukannya tanpa didahului rasa gamang.

Dahlan sebelumnya sempat menimbang-nimbang, mengingat operasi cangkok organ bukannya nihil risiko gagal.

“Kalau transplantasi, kemungkinannya mati. Kalau enggak (ditransplantasi), juga pasti mati. Dari yang pasti mati, saya pilih yang mungkin mati,” kata Dahlan sembari tersenyum.

Sebagai penyintas kanker hati, Dahlan mengaku sempat melewati fase galau, menyangkal, sampai akhirnya bisa menerima, dan mampu berpikir strategis untuk mencari cara terbaik mengatasi penyakitnya.

Ia pun berpesan agar para penderita kanker hati terus bersemangat untuk berjuang mendapatkan kesembuhan.

“Sedih saja tidak menyelesaikan persoalan. Kanker hati bisa ditangani. Semakin dini ditemukan, semakin cepat pengobatan, harapan sembuh juga besar,” kata Dahlan.

Pentingnya deteksi dini

Menanggapi kisah Dahlan Iskan melawan kanker hati, ahli gastroenterologi-hepatologi, Dr. dr. Irsan Hasan, SpPD-KGEH, FINASIM menyampaikan, semakin dini kanker hati terdeksi, penyakit juga semakin cepat tertangani.

Menurut dia, banyak di antara penderita kanker hati yang datang berobat dalam kondisi terlambat, dengan kata lain stadium penyakit sudah masuk tahap menengah atau akhir.

“Muntah darah itu termasuk terlambat,” kata dia.

Lebih lanjut Irsan menerangkan, sejumlah kasus kanker hati terlambat diketahui lantaran organ liver tidak memiliki saraf.

Sehingga, saat awal muncul gangguan, liver tidak langsung mengeluarkan alarm atau sinyal berupa gejala penyakit yang khas.

Mengingat gejala kanker hati jamak dirasakan penderita saat penyakit sudah berkembang, setiap orang, terutama yang berisiko wajib lebih waspada.

“Setiap orang harusnya dicek, ada hepatitis atau tidak. Kalau enggak ada, divaksinasi. Kalau ada hepatitis, kita pantau kankernya secara berkala,” jelas Dokter Irsan.

Selain penderita hepatitis, orang dengan fatty liver atau perlemakan hati yang jamak diidap penderita obesitas dan diabetes juga berisiko mengalami kanker hati.

Fatty liver juga bisa (berkembang) menjadi kanker hati, bahkan tanpa sirosis sama sekali,” kata dia.

Untuk mencegah penyakit kanker hati, Dokter Irsan menyarankan agar setiap orang melakukan pemeriksaan USG secara berkala, pemeriksaan darah rutin, menjaga berat badan agar tetap ideal, mengatur pola makan seimbang, dan rutin berolahraga.