TEST DRIVE: BMW 430i Coupe M Sports Pro, Performa Segalak Tampang Kontroversialnya?

ulinulin.com – JAKARTA – Sejak awal kemunculan mobil ini publik sudah langsung bereaksi keras, terutama terhadap arah desain yang diterapkan, bahkan saat masih berupa konsep. Dianggap terlalu berani dan radikal, tidak sesuai tradisi dan gaya natural dari pendahulunya. Ya, yang kita bicarakan apalagi kalau bukan generasi baru dari BMW Seri 4, yang terkenal dengan grille besar dan provokatifnya itu. Bisa dibilang Sebagian besar pecinta otomotif, termasuk penggemar BMW menyatakan keberatan dengan gaya desain baru ini.

Generasi kedua dari model pengganti posisi Seri 3 Coupe ini juga adalah model yang menjadi basis dari sedan sport andalan BMW kemudian, yaitu M4 Coupe. Awal mula generasi baru Seri 4 Coupe diperkenalkan sudah menuai kontroversi, lewat BMW 4 Concept pada tahun 2019. Lalu model produksinya meluncur di medio 2020, yang kemudian di Indonesia mendarat pada Juni 2021.

BMW bukan hanya memasangkan gaya desain baru ini pada Seri 4 Coupe saja, tapi juga untuk Seri 4 Gran Coupe, mobil listrik i4, iX, dan calon model baru lain yang sudah dijanjikan. Kalau sedikit menilik ke belakang, gaya grill besar ini sudah diawali oleh lahirnya X7 pertama kali, lalu versi facelift atau LCI dari Seri 7 G11/G12.

Tapi mungkin itu memang intensi pabrikan dalam merancang mobil ini, sebuah sportscar yang bukan cuma seru dikendarai, tapi juga mampu mencuri perhatian siapa saja yang melihatnya. Dan terbukti, sampai saat ini orang-orang masih membicarakan desain BMW terbaru ini, meski tidak seluruhnya bernada positif.

Sulit rasanya membahas BMW Seri 4 terbaru tanpa menyinggung soal desainnya ini. Bahkan sampai membuat segmen khusus Kolonial vs Milenial membahas desain BMW terbaru ini. Tapi apakah performanya juga seagresif penampilannya? Karena itu kami penasaran dan mencari tahu langsung dengan mencoba BMW 430i Coupe M Sports Pro, yang kini mengusung kode G22.

Desain

Ya alangkah baiknya kalau kita awali ulasan dengan langsung kuliti soal desain Seri 4 Coupe ini. BMW beralasan bahwa gaya desain grille depan ini mengambil referensi dari model klasik seperti 328 atau 3.0 CSi E9 yang ikonik, juga memiliki grille melintang ke bawah. 328 memang mengikuti bentuk bonnet yang ramping dan tinggi, sementara E9 masih sama dimensinya dengan tinggi garis atas bonnet dan lampu.

Secara subyektif menurut saya BMW agak keterlaluan dalam menerjemahkan referensi ini. Dimensi grille baru mendominasi bagian fascia depan, meski desainnya masih memainkan perannya sebagai saluran masuk udara segar ke pendingin mesin. Namun agresifnya bentuk grille tidak diikuti oleh sebagian besar lain pada eksteriornya.

Seperti lampu utama yang masih satu area dengan grille di fascia depan, bentuknya cenderung kalem dan smooth. Padahal bisa saja BMW mengadopsi desain lampu depan dari Seri 3 G20 yang lebih berlekuk dan memancarkan karakter lebih sporty. Lalu desain keseluruhan body juga bisa dibilang terlalu smooth untuk Seri 4 yang segmennya akan lebih mencari sensasi kencang dan sporty saat mengemudikannya.

Visual bagian samping eksterior 430i Coupe terlihat bersih dari lekuk body, tidak seperti pendahulunya yaitu F32. Belum lagi dengan garis atapnya yang sangat landai ke belakang, nyaris tanpa patahan yang membatasi atap dan bagasi. Kesannya seolah BMW sudah menghabiskan energi agresif untuk mendesain grille depannya, sehingga pahatan bagian samping dan belakang terlihat lebih sopan. Siluet keseluruhan Seri 4 Coupe membuatnya seperti Seri 8 versi junior. Padahal sebagai model ‘Seri Genap’ sebenarnya sekalian saja dibikin serba agresif.

Lalu kalau melihat interiornya, tidak salah kalau kita sebut Seri 4 hanyalah jiplakan dari milik Seri 3. Desain, layout, bahkan letak setiap tombol untuk fungsi dan fitur interior sama persis. Paling hanya trimnya saja yang membedakan antara Seri 4 dan 3. Lewat varian M Sports Pro ini, Seri 4 Coupe punya sentuhan lebih sporty, dengan dominasi warna hitam di kabin.

Namun Sebagian besar ornament di interior ini senada dengan yang BMW sajikan lewat model 330i M Sport generasi G20. Paling berbeda paling garis atap rendah di kursi baris belakang yang mengurangi kelegaan kabin. Lalu ada butler elektrik yang mengantarkan seatbelt setiap saat akan menyalakan mesin, karena posisi pilar B yang mundur pada coupe ini.

Performa

Saya langsung berekspektasi kalau 430i Coupe baru ini akan punya karakter yang lebih agresif dan sporty daripada Seri 3. Apalagi kalau melihat gaya body coupe dua pintu yang telah menjadi patokan mobil sport sejak lama, untuk bisa bersenang-senang dengan kecepatan. Tapi apakah mobil ini akan memenuhi ekspektasi saya?

Secara spesifikasi, Munich membekali Seri 4 varian ini dengan mesin empat silinder 2.0 liter TwinPower Turbo, sama seperti dipakai 330i, yang angka performanya menyajikan tenaga 258 hp dan torsi 400 Nm. Terbilang besar untuk sebuah mobil yang ditargetkan menjadi sportscar harian, apalagi aplikasi turbocharger juga semakin mainstream di line up BMW sekarang ini.

Shoulder line yang tinggi di pintu dan jok yang bisa diposisikan rendah alias low slung menjadikan kokpit 430i terasa seperti mobil sport yang proper. Untuk mengajaknya ngebut pun tidak sulit, karena memang mesinnya dapat merespons instan begitu akselerator diinjak dalam. Distribusi output ke roda belakang cenderung linear dan tidak eksplosif, meski ada turbo, karena efek turbo lag sangat minim. Rasanya siapa saja yang baru mau mencicipi mobil sport pertama kali tidak akan terintimidasi oleh performanya.

Pada mode berkendara Comfort tentunya seluruh karakter pengemudian mulai dari respons mesin, perpindahan gigi, handling dan suspensi terasa konservatif. Rasanya seperti sedan BMW pada umumnya, kompak seperti Seri 3 tapi kenyamanannya nyaris selevel Seri 5. Tentunya kualitas kenyamanan kabin, khususnya urusan insulasi sudah meningkat dibandingkan generasi pertama.

Karena ingin rasakan apakah performanya sebanding tampang galaknya, maka saya banyak coba mobil ini di mode Sport. Ya seperti pada umumnya, ECU mengubah setelan dari karakter mesin, transmisi Sport Steptronic 8-percepatan, suspensi dan setirnya. Mesin langsung berubah nada suaranya lebih tinggi, karena knalpot lebih terbuka untuk meluapkan raungan mesin turbo.

Akselerasi berubah menjadi lebih galak tentunya, mengiringi suara mesin yang mengeras. Klaimnya, 430i generasi ini bisa melakukan sprint 0-100 km/jam dalam waktu 5,8 detik. Ngebut di jalan tol dengan mobil ini rasanya tanpa rasa khawatir, karena mesin bisa dengan cepat memberikan akselerasi, chassis stabil untuk berada di lajur, lalu kemudinya juga presisi dan mantap. Yang jelas untuk kebutuhan cruiser kencang, Seri 4 ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.

Tapi saat dicoba melahap lintasan yang menyerupai sirkuit, sepertinya ekspektasi saya harus disesuaikan ulang. Seri 4 kali ini mungkin bisa dibilang terlalu jinak untuk menjadi sportscar yang dipacu di lintasan berliku. Memang chassisnya cukup kaku untuk memberikan handling yang presisi dan tajam, maka cukup mudah untuk membaca pergerakan body setiap mengajaknya bermanuver agresif. Tapi rasanya setir terlalu ringan untuk mendukung gaya mengemudi agresif, meski sudah di mode Sport.

Walau begitu, bagian depan punya grip yang luar biasa untuk mengakomodasi keinginan bermanuver cepat saat berubah arah. Dan bagian belakangnya cukup ringan untuk bisa dilempar jika ingin membuatnya ngepot. Tapi ya itu tadi, putaran setirnya masih terlalu ringan dan sangat terasa elektronik, meski presisi dalam menerjemahkan input dari pengemudi.

Terlalu Nyaman?

Entah mungkin ekspektasi saya yang salah atau memang arah pengembangan BMW untuk Seri 4 memang menjadi coupe sport yang nyaman. Karena menurut saya selama pengetesan mobil ini, rasanya 430i Coupe M Sports Pro ini terlalu nyaman untuk sebuah sportscar. Ekspektasi saya dalam mencoba sportscar tidak mencapai klimaks, atau tidak terpenuhi dengan penuh.

Mobil ini menurut saya terlalu kedap, halus, dan nyaman, atau bisa dibilang terlalu sopan untuk tampangnya yang agresif dengan grille provokatifnya itu. Walaupun dari sisi performa Seri 4 ini masih kencang, tapi sensasi kesenangannya kurang menyeluruh. Harus dibilang esensi “Sheer Driving Pleasure” yang selalu ditonjolkan BMW tidak sepenuhnya bisa dinikmati oleh pecinta kecepatan.

Saat dipacu kencang, kabinnya terlalu kedap untuk bisa menikmati raungan mesin turbonya. Padahal biasanya mobil dengan jendela frameless di pintunya terkompromi soal kekedapan kabin yang berkurang. Tapi rasanya insulasi di 430i ini terlalu kedap atau memang suara mesinnya tidak begitu kencang. Kalau memang begitu bisa dimaklumi karena sekarang ini tuntutan emisi yang semakin ketat berpengaruh pada tingkat desibel pada suara mesin, di samping fakta bahwa turbo juga cukup meredam teriakan mesin.

Begitu juga dengan karakter kemudinya yang sangat ringan dan halus, menjadi faktor pendukung lain kenapa mobil ini terlalu nyaman sebagai sportscar. Bakan dibandingkan MINI trim Cooper S yang sama-sama dilahirkan BMW saja terasa jauh bedanya. Mungkin memang arah pengembangan BMW pada Seri 4 G22 ini untuk pasar dan segmen yang lebih luas, bukan sekadar pecinta kecepatan. Jadi, semakin banyak kalangan konsumen yang bisa menikmati dan memiliki mobil ini. Ya kalau memang mau laku sebanyak-banyaknya tidak salah juga.

Kenyamanan dan kehalusan pengendaraannya lebih cocok dijadikan menjadi grand tourer kompak daripada coupe pelahap sirkuit. Dimensinya yang masih mirip Seri 3 juga menjadikannya mobil sport yang masih nyaman dan cukup praktis untuk menjadi pacuan sehari-hari. Setidaknya bisa lebih mencuri perhatian orang saat parkir di kantor atau hangout ke mall.

Saran saya, kalau mau punya BMW coupe terbaru yang bisa memenuhi hasrat memacu adrenalin dan bersenang-senang, sebaiknya langsung saja ambil opsi M4 Competition yang sudah tersedia di Indonesia. Tapi kalau mau mobil yang bergaya dan tetap nyaman untuk diandalkan sebagai partner mobilitas harian, Seri 4 Coupe ini bisa jadi pilihan yang menarik.WAHYU HARIANTONOFOTO: SETIONO

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website carvaganza.com. Situs https://ulinulin.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://ulinulin.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”