Titah OJK ke Perbankan Guna Hajar Balik Strong Dollar

ulinulin.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta agar perbankan Indonesia melakukan pencadangan lebih dalam mengantisipasi fenomena strong dollar yang diperkirakan masih akan berlangsung. Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara mengatakan, lembaga keuangan Indonesia harus melakukan manajemen risiko secara hati-hati.

“Wajar saja sebagai pengawas dan regulator dalam situasi dimana terjadi kenaikan suku bunga di berbagai belahan dunia akan terjadi strong dollar ini untuk supaya baik itu emiten, lembaga keuangan harus berjaga-jaga,” ujarnya dalam acara CNBC Indonesia, dikutip Senin (14/11/2022).

Menurutnya, perbankan Indonesia saat ini secara profitabilitas cukup bagus. Sebaiknya, saat terjadi pemulihan ekonomi, perbankan Indonesia tetap waspada dengan memperbanyak porsi pencadangan. “Kalau perbankan Indonesia ini kan profitnya bagus maka dari itu kenapa investor dari luar negeri ingin mencari bank di Indonesia,” ucapnya.

Mirza mengungkapkan, profitabilitas bank RI hingga saat ini cukup baik. Hal itu tercermin dari Net Interst Margin (NIM) perbankan sampai September 2022 masih di angka 4,8%. Sementara, jika dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura hanya 1%.

“Sehingga memang kalau situasi sedang baik seperti sekarang memang bankir yang prudent itu biasanya melakukan pencadangan yang lebih baik,” sebutnya.

Sementara, dari sisi kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) sudah berangsur-angsur membaik yang berada di angka 2,8% dibandingkan pada saat pandemi tahun 2020 lalu yang sebesar 3,01%.

“Loan at risk ini termasuk restrukturisasi 15,9% dari 23% dua tahun lalu. Restrukturisasi kredit membaik. Ada baiknya walau situasi kelihatan baik pertumbuhan ekonomi baik, profit yang ada dipakai untuk cadangan yang lebih besar,” pungkasnya.